Saham Dunia Hiburan Korea "Dalam Masalah" Setelah Dihantam Berbagai Skandal
Foto: Kpopmap

Saham Dunia Hiburan Korea "Dalam Masalah" Setelah Dihantam Berbagai Skandal

Selasa, 23 Jul 2019 | 10:41 | Nisa Diniah

Winnetnews.com - Aset saham Yang Hyun Suk, mantan CEO YG Entertainment bernilai 93,3 milyar won, telah berkurang sebesar 65,2 milyar won (41,1%) dibandingkan stok sahamnya pada akhir tahun lalu sebesar 158,5 milyar won.

Baru-baru ini, menurut chaebul.com, harga saham industri hiburan Korea tahun ini menurun drastis. Aset saham dari 7 artis yang memiliki saham lebih dari 10 miliar won hingga tanggal 19 Juli dilaporkan sejumlah 512 miliar won. Dibandingkan dengan angka pada periode yang sama di tahun lalu (715,7 miliar won), jumlah total aset saham tahun ini menurun sebesar 28,5% (sekitar 23,7 miliar won).

Nilai aset Yang Hyun Suk, pemilik saham terbesar yang memiliki 16,12% saham YG Entertainment, juga menurun akibat serangkaian faktor yang merugikan. Harga saham YG Entertainment juga menurun sebesar 47,5%, dari 47.500 won menjadi 27.800 won.

Nilai saham Lee Soo Man sebagai presdir SM Entertainment dan selebriti yang memiliki paling banyak saham, telah menurun sebesar 67,9 miliar won (29,4%), yaitu dari 230,6 miliar won di akhir tahun 2018 menjadi 162,7 miliar won. Nilai saham Bae Yong Joon yang juga memiliki saham SM Entertainment, juga telah menurun sebesar 14,3 miliar won (29,7%) dibandingkan tahun 2018, dan kini menjadi 33,8 miliar won. Di tahun 2018, Bae Yong Joon menyerahkan seluruh saham KeyEast Entertainment miliknya ke SM Entetrainment.

Di saat bersamaan, aset saham dari CEO Park Jin Young sebagai pemegang saham terbesar JYP Entertainment sebesar 17,8% juga menurun sebesar 56,9 miliar won (29,9%), yaitu dari 193 miliar won menjadi 133,3 miliar won.

Menanggapi harga saham yang merosot tajam pada tahun ini, para ahli memberikan analisis, "Sentimen investor telah memburuk akibat berbagai kasus negatif yang terjadi di industri hiburan semenjak 'Burning Sun Gate' ditambah kekhawatiran akan hasil yang diperoleh dalam berinvestasi yang terus terjadi di paruh pertama dari tahun 2019, serta adanya konflik baru di antara Korea dan Jepang, telah berkontribusi dalam menurunnya harga saham pada titik terendah terbaru dalam 52 minggu berturut-turut."

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...