Skip to main content

Saksi Kepolisian Kena Damprat Hakim Kasus Salim Kancil

Saksi Kepolisian Kena Damprat Hakim Kasus Salim Kancil
Saksi Kepolisian Kena Damprat Hakim Kasus Salim Kancil

Winnetnews.com - Pembunuhan kasus aktivis anti tambang, Salim Kancil tak hanya menyangkut kasus pembunuhan tetapi masuk perkara tambang illegal yang menjadi pemicu terbunuhnya warga Desa Selok Awar awar, Lumajang tersebut.

Dalam persidangan kali ini hakim mendengar keterangan tiga saksi yakni operator alat berat Sudomo dan Slamet, serta penyidik Polres Lumajang Briptu Hasan Basri. Mereka bersaksi untuk 10 terdakwa dalam perkara tambang ilegal yang dikelola oleh kepala desa non-aktif Hariono yang saat ini juga sebagai terdakwa.

Menariknya dalam sidang tersebut, majelis hakim mendamprat dan menceramahi saksi Briptu Hasan Basri karena mengaku adanya tambang ilegal di desa tersebut setelah peristiwa berdarah itu terjadi pada 26 September 2015.

"Sebelum-sebelumnya polisi kemana. Masak tidak tahu," ujar Hakim Frans Basuning dengan nada tinggi kepada saksi dari Polres Lumajang, Kamis (25/2/2016).

Efran juga menanyakan soal dampak hilir mudiknya truk pengangkut pasir ilegal di Desa Selok Awar-awar yang menyebabkan jalan rusak. Sementara saksi Hasan Basri dalam persidangan tersebut lebih banyak diam.

Hasan Basri hanya menegaskan bahwa kepolisian setempat mengetahui adanya tambang ilegal yang dikelola oleh Hariono dan kawan-kawan, setelah ada peristiwa berdarah yang menewakan Salim Kancil dan melukai Tosan.

Bahkan, soal lalu lintas truk tambang pasir yang lalu lalang bukan kewenangnya. Soal lalu lintas truk, itu bukan tupoksi kami sebagai reserse," kilahnya.

"Apakah tidak ada laporan dari polisi lalu lintas terkait hal itu," kata Efran balik bertanya kepada Saksi Hasan. Mendengar pertanyaan Hakim itu, Saksi Hasan Basri hanya diam saja.

Dilansir dari Okezone

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top