Skip to main content

SBY: Kondisi Ekonomi Asia Sudah Mengkawatirkan

SBY: Kondisi Ekonomi Asia Sudah Mengkawatirkan
SBY: Kondisi Ekonomi Asia Sudah Mengkawatirkan

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan perlambatan ekonomi sudah mulai terdampak sehingga diperlukan manajemen krisis dan sudah menjadi "lampu kuning".

"Cegah jangan sampai merah," kata SBY dalam kicaunya pada akun twitter resminya, Senin (24/8).

Kicauan yang terverifikasi milik SBY ini juga di-share di facebook miliknya.

Menurut SBY, diperlukan kebijakan koordinasi di kawasan (regional policy coordination) serta aksi nasional, termasuk solusi yang efektif. "Selain itu, gunakan kerangka ASEAN dan ASEAN +," kata SBY.

SBY mengatakan, bangsa di Asia, termasuk Indonesia perlu memetik pelajaran saat krisis Asia 98 dan krisis ekonomi global 2008. "Ingat selalu ada contagion effect serta faktor eksternal dan internal. Bukan hanya emerging economies yang pertumbuhannya melambat, tapi juga negara-negara Asia. Tiongkok pun (terbesar di Asia) kena," kata dia.

Dijelaskan, kejatuhan nilai tukar, indeks saham gabungan dan harga minyak telah melebihi kewajaran. Sementara kondisi makro dan mikro ekonomi, sektor keuangan serta sektor riil telah terpukul. "Ekonomi Asia sedang susah, cegah isu lain yang serius. Saya berharap siaga perang dan ketegangan antara Korut dan Korsel segera berakhir," kata SBY.

Sementara di Indonesia, perlambatan ekonomi sudah mulai terdampak. Hal ini perlu dicegah agar rakyat tidak makin cemas, sehingga pemerintah tidak kehilangan kepercayaan. "Menurut saya, manajemen krisis harus diberlakukan. Jangan underestimate dan jangan terlambat. Apalagi pasar dan pelaku ekonomi mulai cemas," kata SBY.

SBY percaya pemerintah bisa mengatasi gejolak ekonomi saat ini. Di jajaran Kabinet Kerja dan pemerintah lanjut SBY, tidak sedikit yang memahami ekonomi dan bisa ikut mengatasi gejolak. Namun diperlukan tim kerja yang solid dan efektif. "Maaf, sebaiknya lebih fokus dan serius, serta cegah hal-hal yang tak perlu," kata SBY.

SBY juga mengungkapkan, Indonesia sering mengalami gejolak. Dalam krisis 98 ekonomi Indonesia jatuh, tetapi dalam krisis gobal 2008 selamat. "Ambil pengalamannya. Tahun 2008-2009 dulu kita bisa minimalkan dampak krisis global, karena pemerintah (pusat dan daerah), dunia usaha, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ekonom dan pimpinan media bersatu," kata Presiden Indonesia ke enam ini.

Saat ini, kata dia, yang diperlukan adalah kepemimpinan dengan arahan yang jelas yakni solusi, kebijakan yang cepat dan tepat serta dukungan semua pihak. (jk)

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top