Sebenarnya, Bijak Gak Sih Menyalahkan Korban?

Oky
Oky

Sebenarnya, Bijak Gak Sih Menyalahkan Korban? Sumber foto : Istimewa

Winnetnews.com - Seperti yang sudah kita tahu, media memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar dalam membentuk opini dan pola pikir masyarakat. Tapi seiring berjalannya waktu, beberapa media masa besar yang online maupun konvensional hanya peduli tentang seberapa banyak orang membuka artikel mereka dan itu membuat mereka menulis judul headline yang terkesan kontroversial serta tidak memikirkan bahwa judul headline yang mereka buat bahasanya kurang etis. Seharusnya, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas proses pembentukan opini dan pola pikir masyarakat media bersifat netral. Namun, sekarang media-media besar banyak yang melakukan praktik menyalahkan korban hanya untuk memenuhi target ‘click’. Praktik menyalahkan korban ini kebanyakan bisa dijumpai di artikel tentang pelecehan seksual.

Budaya patriarki kerap menjadi isu besar di media online Indonesia. Kini, situs online berita dan koran kurang memiliki perspektif gender. Isi konten beritanya kebanyakan memposisikan perempuan sebagai subjek yang dikesampingkan yang menerima stereotype negatif. Banyak situs berita dan koran yang menerima pengeksploitasian penampilan fisik perempuan dan menganggapnya sebagai hal yang normal dan dapat diterima masyarakat. Menurut Mediterranean Journal of Social Science, perempuan sering digambarkan sebagai objek yang diinginkan pria, yang menjadi sebab dari masalah yang menyangkut gender seperti prostitusi, pelecehan, pemerkosaan dan kekerasan.

Karena judul headline berita yang kontroversial, kebanyakan masyarakat Indonesia ikut menyalahkan korban bersama media masa yang memojokkan korban yang diakibatkan oleh kebiasaan malas membaca artikel panjang dan suka menarik kesimpulan berdasarkan judul saja. Sebagai contoh, tanggal 15 September 2018 lalu ada seorang WNA (warga negara asing) yang diperkosa oleh petugas kebersihan salah satu hotel di Bali. Salah satu media masa yang meliput menulis judul headline “Petugas Kebersihan Hotel di Bali Tergoda Turis yang Tidur Tanpa Busana”, yang artinya mereka memfokuskan artikel kepada kebiasaan WNA tersebut untuk tidur tanpa menggunakan busana, bukan pada fakta bahwa petugas kebersihan tersebut memperkosa sang WNA.

Sebagai manusia, kita harus mendapatkan persetujuan dari kedua belah pihak untuk melakukan hubungan seksual. Hanya karena sang WNA tertidur tanpa memakai busana, tidak berarti dia setuju terhadap apa yang dilakukan oleh sang petugas kebersihan. Jelas sekali pada judul headline tersebut perempuan WNA yang menjadi korban pemerkosaan di posisikan sebagai penyebab dari peristiwa pemerkosaan tersebut, bukan sebagai korban.

Walaupun sudah jelas sekali sang WNA adalah korban. Karena judulnya yang kontroversial dan tanggung jawab besar media untuk membentuk opini pembacanya, banyak para pembaca yang merespons dengan tanggapan seperti “Wah, cleaning service ngasih special service” dan beberapa tanggapan tidak pantas lainnya. Orang-orang di internet atau yang lebih akrab dikenal dengan kata netizen, akan sibuk menyalahkan korban walaupun kita tahu bahwa pelecehan seksual dan pemerkosaan diakibatkan oleh pelaku pemerkosaan yang tidak mampu menahan hasrat seksualnya dan memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk memuaskan dirinya sendiri terhadap wanita yang kebanyakan berpakaian sopan, dan media tahu itu. Tapi sayangnya, walaupun media tahu yang salah adalah pelaku pemerkosaan, mereka tetap menulis judul headline sekontroversial mungkin dan tidak akan memikirkan bahwa itu adalah tindakan yang tidak etis. Yang dipikirkan hanya, artikel yang mereka buat mendapat banyak ‘click’.

Selain itu, reporter (dan editor) juga kerap kali menggunakan bahasa yang sexist di cerita pemerkosaan. Pemilihan kata seperti ‘digagahi’ yang diartikan sebagai diperkosa oleh pria memberikan konotasi superioritas pria kerap digunakan di salah satu situs berita online terbesar di Indonesia. Akibatnya, tak jarang pula para pemerkosa menganggap bahwa oknum pemerkosa merupakan sosok pria gagah dan jantan.

Jadi, karena media memiliki tanggung jawab untuk membentuk opini dan pola pikir masyarakat dan media menggunakan diksi yang tidak baik serta penulisan judul headline yang kurang etis mengakibatkan para pembaca media tersebut pola pikir dan opininya terbentuk menjadi terbiasa menyalahkan korban. Seperti yang tertulis disalah satu judul berita pemerkosaan tanggal 11 Februari 2015, “Tersangka Pemerkosa SIswi SMP: Saya Hanya Disuruh Ngrasain, Katanya Dia Cabe-Cabean” tersangka bahkan diposisikan seolah dijebak dengan pilihan kata ‘saya hanya disuruh ngrasain’. Perempuan disini tidak direpresentasikan. Headline tersebut juga memilih kata ‘cabe-cabean’ untuk korban pemerkosaan. Jelas sekali bahwa di sini perempuan yang menjadi korban diposisikan menjadi sebab dari pemerkosaan. Sama seperti kasus WNA yang diperkosa oleh petugas kebersihan hotel di Bali.

Korban pemerkosaan, pelecehan seksual, kekerasan seksual sudah cukup menderita, mereka tidak membutuhkan penilaian dari orang lain. Mereka membutuhkan dukungan fisik dan moral, kasih sayang, dan juga perlindungan bukan penilaian dari orang yang dikenal maupun tidak yang tidak pernah mengalami apa yang mereka alami namun bertingkah seolah mereka manusia yang paling tahu tentang semua hal. Korban sudah melewati banyak hal yang kemungkinan besar akan membuat mereka trauma dan menghantui kehidupan mereka. Tragedi tersebut akan berefek besar bagi kehidupan sehari-hari mereka. Sebagian besar korban bisa saja mengalami gangguan mental depresi. Korban juga berpotensi menarik diri sendiri dari kehidupan sosial dan bermasyarakat–menjadi penyendiri. Bahkan tidak jarang, ada korban yang bunuh diri karena tidak tahan disalahkan secara terus menerus oleh orang sekitar, yang kenal maupun tidak.

Sekarang sudah jelas kan mengapa kita tidak boleh menyalahkan korban? Maka dari itu, kita nggak boleh melakukannya. Sudah saatnya kita sadar akan pentingnya melindungi, mengasihi dan membela korban. Terlebih lagi, sudah semakin banyak orang dan organisasi yang makin peduli dengan korban pemerkosaan, pelecehan dan kekerasan seksual. Semuanya berasal dari kesadaran dan kemauan masing-masing untuk membantu. Karena sudah seharusnya manusia peduli dengan satu sama lain. Ayo, sama-sama kita hentikan kebiasaan menyalahkan korban!

 

Ditulis oleh : Syafira

Apa Reaksi Kamu?