Sebut TKI Sebagai Babu, Fahri Hamzah Tuai Kecaman
Sumber foto : twitter

Sebut TKI Sebagai Babu, Fahri Hamzah Tuai Kecaman

Rabu, 25 Jan 2017 | 22:33 | Oky

Winnetnews.com - POSPERTKI (Posko Perjuangan TKI) di Saudi Arabia yang merupakan salah satu organisasi TKI yang terbentuk sejak tahun 2009 lalu mengecam keras kicauan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah di jejaring sosial twitter.

Dalam akun twitternya pada 24 Januari 2017, Fahri Hamzah yang merupakan politisi PKS (Partai Keadilan Sejahtera) berkicau “Anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang dan pekerja asing merajalela”.

Kicauan tersebut ternyata langsung mendapat kecaman dari para TKI di luar negeri melalui jejaring sosial facebook maupun twitter.

Ramida Muhammad yang merupakan Ketua Umum POSPERTKI Saudi Arabia menanggapi cuitan Fahri dalam akun facebooknya

“kami bukan pengemis, kami bekerja dengan segala kemampuan kami dengan niat mulia. Demi menafkahi keluarga kami dari hasil keringat sendiri yang mengucur lelah. Namun kami bangga menjadi TKI daripada jadi biang korupsi”.

Komentar pedas lainnyapun datang dari TKI di Jeddah salah satunya Widya Yusuf yang melalui akun facebook pribadinya menyatakan “Lebih terhormat menjadi pengemis atau babu dari pada duduk di kursi empuk kerjanya maling uang rakyat”.

Begitu juga TKI yang bekerja di kota Madinah dengan akun facebook Lavender Flowers meminta sang politisi PKS tersebut berpikir dua kali sebelum berbicara. Kami TKI tersebar di beberapa negara timur tengah dan asia yang berjumlah begitu banyak.

Masa jadi pengemis . . . . okelah kami pembantu, tapi kami kerja halal bukan dari keringat melorotin uang pejabat.

Janganlah bilang pengemis yang artinya minta – minta. Apa Bapak Fahri Hamzah pernah lihat kami duduk di jalanan mengemis minta uang ?,” ujarnya.

Sharief Rachmat yang merupakan Ketua dari DPLN PDI Perjuangan Saudi Arabia menilai, tidak pantas bagi seorang pejabat negara apalagi anggota DPR RI yang merupakan wakil rakyat mengutarakan ucapan sedemikian rupa.

Jangan karena kepentingan dan ambisi politik, TKI dijadikan objek.

Kalau Fahri Hamzah mengklaim tidak bermaksud menghina TKI, kenapa status twitternya langsung dihapus setalah adanya kritik dan kecaman,” sambung Sharief yang sudah tinggal di Saudi Arabia selama 31 tahun.

Sharief yang juga merupakan Ketua Tim Baksos Peduli WNI kolong Jembatan Kandara kota Jeddah tahun 2009 menyindir Fahri Hamzah.

“Hebat sekali TKI yang dinilai babu dan pengemis bisa berkontribusi devisa negara triliuan rupiah, sedangkan Fahri Hamzah apa kontribusinya ?”

Kedua orang tua saya, kurang lebih 35 tahun menjadi TKI di Saudi Arabia. Saya bangga menjadi anak dari pasangan TKI. Mereka tidak mengemis dan mereka berjuang secara terhormat. Menjadi TKI bukanlah pekerjaan yang hina,” ujar Sharief Rachmat pada Selasa (24/01/2017) di Jeddah, Saudi Arabia.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...