(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sejarah Panjang Konflik Poso, Hingga Kemunculan Santoso

Rani
Rani

Sejarah Panjang Konflik Poso, Hingga Kemunculan Santoso

WinNetNews.com - Tertembaknya Santoso mengingatkan kembali kepada sejarah panjang konflik di Poso. Konflik di Poso adalah konflik yang berawal dari peristiwa kesalahpahaman yang terlambat diatasi oleh aparat penegak hukum dan kemudian berbuntut panjang.

Dalam artikel yang dimuat oleh laman Republika, Selamat Ginting (Jurnalis Senior) menceritakan pengalamannya ketika ia meliput suasana konflik di Poso.

Ketika itu di tahun 1998 hingga 2001 Ia menggambarkan bahwa Poso bagaikan neraka liputan. Pada masa itu lebih dari 600 rumah terbakar, sekitar 60 ribu warga mengungsi. Jangan tanya jumlah warga yang tewas, saya pegang data jumlah korban tewas. Mengerikan!

Warga Islam ketakutan karena menganggap laskar Kristen akan menghabisinya. Warga Kristen pun juga ketakutan karena menganggap laskar Islam akan menghabisinya. Kedua warga Islam dan Kristen pun mengungsi. Demikian pula warga Hindu yang merasa berada di tengah peperangan bernuansa SARA.

Konflik ini berawal dari masalah sepele, saat bulan puasa Ramadhan, seorang warga keturunan yang sedang mabuk membacok seorang warga yang berbeda agama di masjid. Polisi telat mengantisipasi masalah tersebut, kerusuhan pun berbuntut panjang.

Apalagi menjelang berlangsungnya pilkada Poso, terjadi saling provokasi dengan membuat selebaran yang menghasut. Kedua provokator dan pemimpin penyerangan akhirnya memang mati terbunuh.

Kemudian Selamat juga menceritakan kemunculan Santoso dan Tibo. Selanjutnya, terjadi saling lempar ke perkampungan berbeda agama. Saling serang dan bakar rumah penduduk dan rumah ibadah. Bahkan saling bunuh!

 

Mengerikan melihat mayat dari kedua belah pihak tergeletak di jalan-jalan dan mengapung di sungai-sungai. Ribuan massa dari keduanya saling baku bunuh.

Siapa yang menyulut terlebih dahulu? Tidak jelas. Yang jelas, kedua masyarakat berbeda agama itu tersulut emosi.

Pemerintah telat mengantisipasinya. Seharusnya pemerintah sudah menetapkan keadaan sebagai darurat sipil! Namun hal itu tidak dilakukan. Aparat kepolisian tak lagi berwibawa menghadapi dua laskar yang sudah mendidih darahnya. Sejumlah polisi pun tewas. Bagi saya saat itu, di Poso seharusnya sudah diberlakukan darurat militer untuk menjaga kewibawaan pemerintah. Namun, negara seperti tidak hadir di situ.

Baca juga: Gerindra intensifkan komunikasi politik jelang Pilkada Jakarta

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menganggap Pemerintah Indonesia gagal melindungi warga yang berbeda agama dan keyakinan itu. Sampai kemudian muncul tokoh seperti Santoso yang dianggap pahlawan bagi umat Islam Poso serta Tibo yang dianggap pahlawan bagi umat Kristen Poso.

Gila! Itulah kata yang bisa saya ungkapkan mengenai figur-figur tersebut dan gagalnya pemerintah menyelesaikan kasus Poso. Perjanjian Malino hanya di atas kertas karena kewibawaan pemerintah sudah tidak ada.

Saya tidak ingin dan tidak bermimpi ada kasus seperti itu lagi di bumi nusantara. Sesama anak bangsa bertikai dan saling bunuh atas nama Tuhan-Nya adalah tindakan keji dan biadab.

Damailah Indonesiaku!

Sumber: Republika

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});