Sektor Energi Lesu, Laba Citigroup Terjun 27 Persen di Kuartal I-2016

Sektor Energi Lesu, Laba Citigroup Terjun 27 Persen di Kuartal I-2016

WinNetNews.com - Grup perbankan asal Amerika Serikat, Citigroup melaporkan penurunan laba sebesar 27 persen pada kuartal I-2016 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun pendapatan bersih turun menjadi 3,5 miliar dollar AS dari 4,8 miliar dollar AS dari akhir kuartal I-2015. Capaian ini sejalan dengan upaya Citigroup melakukan pengalokasian kas untuk menutup kerugian akibat pinjaman di sektor energi.

CEO Citigroup Michael Corbat menjelaskan, Citi memperlihatkan perkembangan dalam transformasi menjadi institusi yang lebih sederhana, kecil, aman, dan kuat.

Penurunan laba Citigroup pada kuartal I-2016 adalah salah satu yang terbesar di antara bank-bank besar AS yang telah melaporkan kinerja keuangannya untuk kuartal I tahun ini.

Dari sisi aset, posisi Citigroup sebagai bank terbesar ketiga di AS sudah digeser oleh Wells Fargo.

Pendapatan Citigroup dari pasar pendapatan tetap turun 11,5 persen menjadi 3,09 miliar dollar AS. Sementara itu, pendapatan dari divisi perbankan investasi turun 27,2 persen menjadu 875 juta dollar AS.

 

"Sementara, produk-produk kami yang sensitif terhadap pasar jelas menderita karena lemahnya sentimen investor pada kuartal I, kami terus menciptakan progres di beberapa area kunci," ujar Corbat.

Industri perbankan global telah mencoba bertahan sejak awal tahun karena ketidakpastian outlook perekonomian global, sejalan dengan perlambatan di China dan harga minyak dunia yang terus mengalami penurunan.

Namun demikian, Citigroup bukan satu-satunya bank yang melaporkan penurunan laba secara tahunan atau year on year untuk kuartal I-2016.

Sebelumnya, JP Morgan melaporkan laba terjun 13 persen pada kuartal I-2016, dan laba Wells Fargo turun 7 persen. Sama seperti Citi, ketiga bank tersebut berusaha menutup kerugian akibat pinjaman bermasalah di sektor energi.

Citigroup membukukan penurunan laba yang lebih besar lantaran memiliki eksposur yang lebih besar pula di negara-negara emerging markets.

Beberapa hari lalu, Citi adalah satu dari beberapa bank di AS yang memperoleh persetujuan "living will" dari otoritas. Maksudnya, bank diperbolehkan memiliki rencana untuk menutup operasional karena krisis finansial.

Sumber&Foto dari situs Kompas, Jakarta