Senat AS Terima Berkas Pemakzulan, Nasib Trump di Ujung Tanduk
Ketua DPR AS, Nancy Pelosi (kanan) tengah berbincang serius dengan Pimpinan Mayoritas Senat AS, Mitch McConnell (kiri) terkait persidangan pemakzulan terhadap Preisden AS, Donald Trump. [Foto: Axios]

Senat AS Terima Berkas Pemakzulan, Nasib Trump di Ujung Tanduk

Kamis, 16 Jan 2020 | 09:45 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump terus bergulir sejak beberapa pekan lalu. Kini, nasib Trump sudah digenggam Senat AS yang didominasi Partai Republik, berbeda dengan pengusul pemakzulan, DPR AS yang didominasi oposisi Trump dari Partai Demokrat.

Sejumlah berkas sebelumnya sudah disampaikan DPR AS ke pihak Senat AS untuk dilakukan persidangan pemakzulan Trump. Beberapa berkas tersebut merupakan sederet artikel yang dapat menguatkan pemakzulan terhadap Trump.

Mengutip CNBCIndonesia.com, Pemimpin Mayoritas Senat AS, Mitch McConnell mengatakan persidangan pemakzulan kemungkinan bisa dimulai secepatnya pada Selasa (21/1).

Sebelum dikirim ke Senat, Ketua DPR AS, Nancy Pelosi telah menandatangani resolusi yang memungkinkannya secara resmi menunjuk anggota DPR AS yang akan berfungsi sebagai manajer persidangan pemakzulan.

Resolusi itu juga memungkinkan DPR untuk mengalokasikan dana yang sesuai untuk persidangan itu sendiri.

"Biar diperjelas, presiden ini (Trump) akan diminta bertanggung jawab." kata Pelosi sebelum menandatangani dokumen, menurut CNBC.com, Rabu (15/1). Resolusi itu lolos di DPR AS dengan hasil 228 berbanding 193 suara.

Sebelumnya pada 18 Desember 2019, DPR AS telah melakukan pemungutan suara untuk memakzulkan Trump.

Hasilnya menunjukan mayoritas DPR AS setuju memakzulkan presiden ke-45 AS tersebut. Langkah ini menjadikan Trump sebagai presiden AS ketiga yang pernah dimakzulkan.

Pemakzulan terhadap Trump dilakukan setelah DPR AS melakukan penyelidikan pemakzulan sekitar tiga bulan terakhir.

Penyidikan itu dilakukan setelah Trump kedapatan menyalahgunakan kekuasaannya dalam sebuah panggilan telepon dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky pada 25 Juli 2019.

Dalam kesempatan itu Trump meminta Zelensky melakukan penyelidikan terhadap eks Wakil Presiden AS, Joe Biden dan putranya Hunter Biden.

Joe Biden yang juga pendamping eks Presiden AS, Barack Obama didaulat sebagai perwakilan utama dari Partai Demokrat dalam melenggang ke Pemilu AS 2020 melawan Trump.

Disebutkan bahwa dalam kesempatan itu, Trump menjadikan dana bantuan keamanan untuk Ukraina yang senilai hampir US$400 juta sebagai tawaran untuk menekan Zelensky agar mau menuruti permintaan Trump.

Banyak pihak percaya alasan Trump melakukan ini adalah untuk memastikan kemenangannya di Pemilu AS yang digelar November 2020. [cnbc]

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...