(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Seperti Apa Tren Interior 2016?

Muhammad Takdir
Muhammad Takdir

Seperti Apa Tren Interior 2016?
WinNetNews.com - Konsep lokalitas sepertinya akan menjadi tren yang berkembang luas di dunia properti dan arsitektur pada 2016 ini. Berbagai material alam, warna-warna hangat dan kekhasan daerah bakal menonjol, baik itu lewat desain arsitektur, eksterior, maupun interior pada hunian.

Masyarakat akan cenderung mengenang masa lalu dengan cara kekinian pada 2016. Dengan kata lain, hal-hal lokal atau kedaerahan yang dulu dianggap kuno akan mengalami regenerasi. Tampilan dan fungsinya akan lebih menarik dan sesuai untuk gaya hidup masyarakat modern saat ini.

Bangunan tradisional akan lebih bersih dan canggih. Akan semakin banyak orang mencampurkan nuansa pedesaan, seperti kayu dengan logam. Misalnya untuk desain dapur. Perpaduan tersebut akan menciptakan kesan netral, tenteram, tidak terlalu formal, namun tak juga berantakan. Inilah alasan kenapa konsep lokalitas bakal populer pada tahun ini karena ada kecenderungan masyarakat untuk membuat lingkungan dan hunian lebih hidup, lewat kenangan masa lalu dan masa depan.

 

“Tahun 2016 yang sudah pasti lokalitas itu akan semakin banyak. Bisa kita lihat beberapa apartemen, contohnya di Alam Sutera itu unsur lokalitasnya semakin ada, semakin tematik. Jadi, trennya pasti ke sana,” kata arsitek dari PT Arya Cipta Graha, Cosmas Gozali.

Cosmas menyebutkan lokalitas yang dimaksud adalah dengan menggunakan bahan-bahan material dari lokasi proyek pembangunan dilaksanakan.

“Kami banyak sekali, misalnya bata. Kalau proyeknya di Sumatera, carilah bahan-bahan material yang buatan Sumatera jangan melulu semuanya didatangkan dari Jawa,” imbuh dia.

Untuk mendukung itu, dia menyarankan pemerintah dan pengembang membuka kesempatan bagi manufaktur untuk memperluas bisnisnya.

 

“Nah yang seperti itu, sebetulnya manufaktur harus diajak, harus dibuka situasi-situasi untuk mereka investasi di berbagai pulau. Ini supaya tidak semuanya terpusat di Pulau Jawa saja,” harap Cosmas.

Bukan hanya itu, lokalitas juga bisa dimunculkan dari desain arsitektur bangunan. Misalnya dengan menggunakan corakcorak etnik budaya Indonesia.

Segi arsitektur sendiri tak bisa dilepaskan dari bisnis properti. Keberadaannya mampu menjadi patokan harga bagi perumahan atau apartemen. “Pengaruhnya akan cukup besar sekali buat harga pasar, makanya kami sebagai arsitek tidak hanya membuat bangunan indah, juga affordable,” kata Cosmas.

Lokalitas juga bisa menjadi kunci bagi para arsitek untuk bersaing dengan arsitek asing dalam persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Senada dengan itu, Gregorius Supie Yolodi, profesional arsitektur dari tim - dassociates architect menyebutkan, rumah ramah lingkungan (eco friendly house) tampaknya akan menjadi tren desain bangunan rumah pada tahun 2016.

 

Eco friendly house adalah konsep hunian yang dibangun berwawasan lingkungan dengan memanfaatkan potensi alam secara maksimal. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek, mulai layout bangunan, bahan material yang ramah lingkungan, mengoptimalkan lahan hijau, hingga sistem pembuangan yang tidak merusak alam sekitar.

“Konsep ramah lingkungan (eco friendly) ini juga merupakan desain yang memungkinkan sebuah rumah dapat menghemat energi, mulai listrik hingga pencahayaan,” ujar Supie.

Menurut Supie, banyaknya masyarakat yang menggunakan desain rumah berkonsep ramah lingkungan ini karena munculnya kesadaran akan hidup yang sehat.

Kondisi alam yang rusak akhirnya mendorong masyarakat untuk mau menjaga lingkungan. Sebuah tren hunian itu, menurut dia, bisa terbentuk karena banyak faktor, salah satunya faktor sosial politik.

(seperti dilansir Okezone)

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});