Sering Bertengkar Saat Pacaran, Akankah Timbul Depresi?

Rusmanto
Rusmanto

Sering Bertengkar Saat Pacaran, Akankah Timbul Depresi? ilustrasi
Winnetnews.com -  Meski indah dijalani, lika-liku pacaran tetap tidak pernah luput dari konflik yang datang silih berganti. Jika terus dibiarkan, konflik asmara berkepanjangan dapat memicu masalah mental seperti depresi. Lantas, apakah ini berarti pacaran bisa menyebabkan depresi?

Hubungan antara pacaran dan depresi

Pacaran sebenarnya tidak secara langsung menjadi pemicu depresi. Namun, beberapa masalah yang kerap terjadi selama berpacaran dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan psikis dan akhirnya memicu penyakit ini.

Berikut adalah beberapa masalah terkait pacaran yang berisiko menimbulkan depresi:

1. Hubungan toksik

Hubungan toksik adalah hubungan yang merusak kondisi emosional Anda. Berbeda dengan pacaran sehat yang membuat Anda merasa bahagia dan bersemangat, hubungan toksik justru menyebabkan stres, cemas, depresi, hingga masalah medis.

Berikut adalah beberapa tanda hubungan toksik yang perlu Anda waspadai:

  • Saat bersama pasangan, Anda justru merasa letih dan hampa.
  • Setelah menghabiskan waktu bersama, Anda merasa lebih buruk.
  • Pasangan Anda tidak memberikan rasa aman, tapi malah membuat Anda merasa terancam.
  • Anda adalah pihak yang selalu memberi, sedangkan pasangan hanya mau enaknya menerima.
  • Hubungan Anda penuh dengan pertengkaran, drama, dan kesedihan.
  • Anda merasa telah berubah demi pasangan.

2. Hubungan penuh kekerasan (abusive)

Faktor lain yang menyebabkan depresi terkait pacaran adalah perilaku abusive, atau kekerasan. Hubungan abusive merupakan bentuk yang lebih berbahaya dari hubungan toksik.

Melansir laman organisasi nonprofit internasional loveisrespect, kekerasan dalam pacaran bisa terjadi dalam bentuk fisik, emosional, psikologis, hingga seksual.

Sering kali, korban tidak menyadari atau bahkan mengakui bahwa pasangannya telah melakukan tindak kekerasan karena pelaku meminta maaf dan bersikap baik. Namun, siklus ini dapat terus berulang dan lambat laun memengaruhi kesehatan psikis korban, termasuk memicu depresi.

Apa Reaksi Kamu?