Setara Institute: Kapolres Kota Solok, Beri Rasa Aman Kepada dr. Fiera Lovita!
Direktur Riset SETARA Institute Ismail Hasani, Peneliti SETARA Institute M. Syauqillah, Wakil Ketua SETARA Institute Bonar Tigor NAipospos, Anggota SETARA Institute Aminuddin Salim (kiri-kanan)/Foto: Dokumentasi Setara Institute

Setara Institute: Kapolres Kota Solok, Beri Rasa Aman Kepada dr. Fiera Lovita!

Sabtu, 27 Mei 2017 | 14:24 | Zulkarnain Harahap

WinNetNews.com – Kabar mengenai adanya dugaan intimidasi yang menimpa dr. Fiera Lovita oleh beberapa oknum tidak bertanggungjawab, mendapat reaksi masyarakat. Setara Institute, misalnya, meminta agar Kapolres Kota Solok dan umumnya Polda Sumatera Barat agar memberikan rasa aman kepada dokter Lovita.

“Praktek intimidasi dan ancaman terhadap rasa aman kepada setiap warga Negara sedang terjadi di Kota Solok. Kelompok Front Pembela Islam dan simpatisannya, mengitimidasi seorang dokter bernama Fiera Lovita, ahli Hemodialisa yang bekerja di RSUD Kota Solok,” kata pernyataan resmi dari Setara Institute yang diterima, Sabtu (27/05/2017).

Intimidasi itu, lanjut Setara Institute, bermula dari status di FB korban yang isinya “Kalau tidak salah, kenapa kabur? Toh ada 300 pengacara n 7 juta ummat yg siap mendampingimu, jangan run away lg dunk bib”. “kadang fanatisme sudah membuat akal sehat n logika tdk berfungsi lagi, udah zinah, kabur lg, masih dipuja & dibela”. “masi ada yg berkoar2 klo ulama mesumnya kena fitnah, loh...dianya kaburr, mau di tabayyun polisi beserta barbuk ajah ga berani”.

“Pernyataan Fiera Lovita tersebut diviralkan dengan berbagai macam plintiran dan hujatan kotor. Akibatnya yang bersangkutan mendapatkan intimidasi dari berbagai pihak. Sejak dari pimpinan RSUD Solok bahkan intel dari Polres Kota Solok terkesan ikut mengintimidasi karena tunduk pada keinginan kelompok FPI. Kasat Intel Polisi Kota Solok, Ridwan memperlihatkan konten Facebook dari handphonenya, dan menyatakan kelompok FPI yang tidak senang terhadap postingan dr. Fiera Lovita dan berniat menggerebek dan menangkap yang bersangkutan,” lanjut Setara.

“Kasat Intel Polres Kota Solok, Ridwan juga menginterogasi korban dan selain meminta identitas lengkap korban juga mempertanyakan “apakah status Fiera Lovita diminta oleh pendukung kebijakan Ahok dan bapak Presiden Jokowi”. Tidak cukup sampai disitu Ridwan menyuruh menyuruh korban meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi. Sembari mengingatkan korban agar jangan macam-macam dulu, cukup menjalankan tugas sebagai dokter saja. Kasat Intel Ridwan mengatakan hati-hati, karena ada kelompok FPI yang akan mencari korban. Selesai interogasi saat korban hendak menuju mobil pribadinya, sudah dikepung oleh beberapa orang berjubah, berjanggut dan berkopiah putih-putih mengetuk-ngetuk jendela mobil korban hingga anak-anaknya berusia 8 dan 9.8 tahun yang berada dalam mobil nangis ketakutan,” tambahnya.

Kejadian intimidasi terus berlanjut. Ketua FPI setempat mendatangi RSUD tempat korban bekerja. Ketua FPI Kota Solok juga mengintimidasi korban dan meminta korban tidak menjawab serta harus patuh dengan tuntutan mereka agar membuat pernyataan meminta maaf yang disebarkan ke sosial media. Korbanpun dimarahi oleh Direktur RSUD Solok. Direktur beserta jajaran RSUD Solok yang didampingi oleh Kompol Darto dan Kasat Intel Ridwan mendesak agar korban membuat dan menyampaikan permintaan maaf, menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi. Korbanpun diminta membuat surat tulis tangan yang isinya permohonan maaf yang ditanda tangani korban dan beberapa yang hadir, kecuali Kepala RSUD dan pihak kepolisian yang hadir.

image0

Tapi intimidasipun terus berlanjut, korban diajak foto bersama yang kemudian kembali diviralkan ke media sosial, dan melalui sosmed tersebut, kelompok FPI dan pendukungnya terus mengunjingi korban dengan kata-kata makian dan hinaan. Kuatnya tekanan dan intimidasi, membuat korban saat ini sangat tidak nyaman, karena juga dituduh komunis dan serapah lainnya. Yang bersangkutan menginginkan pindah dari Solok.

“Setara Institute mendesak agar kepolisian Polres Kota Solok dan dimanapun harus bersikap tegas terhadap kelompok-kelompok intoleran serta yang ingin selalu memaksakan kehendak. Selain itu agar korban yang terintimidasi diberikan rasa aman dan dilindungi hak asasinya. Sehubungan dengan modus kelompok-kelompok FPI dan kelompok intoleran lainnya mulai menebarkan tindakan intimidasi melalui media social, agar pihak terkait ditertibkan kontens rasisme, fitnah dan hoax,” tutup pernyataan resmi dari Setara Institute.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...