(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Siapa Sih Yang Paling Banyak 'Parkir' Uang di Luar Negeri?

Gunawan Wibisono
Gunawan Wibisono

Siapa Sih Yang Paling Banyak 'Parkir' Uang di Luar Negeri?
WinNetNews.com - Setelah Jokowi dilantik sebagai Presiden dan Kabinet terbentuk 2014 lalu, Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang PS Brodjonegoro mengatakan berencana memanfaatkan potensi dana orang Indonesia yang parkir diluar negeri khususnya Di Singapura.

Setelah itu Menkeu berserta tim terbang ke Singapura bertemu dengan pejabat Singapora untuk mendapatkan informasi prihal dana tersebut melalui skema kesepakatan tentang Automatic Exchange of Information. Memang pada G-20 di Rusia tahun 2013 negara-negara anggota G-20 berkomitmen saling memberikan informasi yang relevan bagi negara-negara mitra untuk memberantas berbagai modus penghindaran pajak.

Tahun 2015, data dari World Wealth, dana asal indonesia yang di 'parkir' di luar negeri sebanyak USD 157 miliar atau Rp. 1800 Triliun. Uang sebanyak itu hanya terdapat di empat belas ribu rekening saja.

Selanjutnya, diceritakan pada tahun 2015 lalu, banyak orang berkumpul untuk melakukan pertemuan di salah satu hotel berbintang lima di Singapura. Pertemuan tersebut ternyata diadakan oleh salah satu bank terkemuka di Singapura. Mereka yang hadir dalam pertemuan itu umumnya adalah orang Indonesia yang memiliki rekening jutaan dollar di bank di Singapura. Mereka nampak resah dengan adanya pemberitahuan dari pejabat bank bahwa mulai tahun 2017, rekening mereka akan di ketahui oleh petugas pajak di Indonesia.

Hal itu dikarenakan Automatic Exchange System of Information (AEOI) atau Sistem Pertukaran Informasi Otomatis akan diberlakukan oleh perbankan dunia. Ini sesuai dengan kesepatakan WTO. Data perbankan nantinya tidak lagi menjadi sebuah kerahasiaan dan dapat diakses oleh otoritas negara manapun di dunia. Otoritas pajak masing-masing negara akan diberikan keleluasaan mengecek dana wajib pajak lewat sistem itu, yang selama ini ditempatkan di negara lain.

Saat ini, rancangan Undang - undang (RUU) Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty tengah dalam pembahasan antara pemerintah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Lewat kebijakan tersebut diharapkan dana orang Indonesia yang selama ini parkir di luar negeri dapat kembali pulang.

 

Namun siapa orang yang menaruh dana di luar negeri tersebut? Hal ini juga menjadi pembahasan dalam rapat dengar pendapat umum antara Komisi XI DPR dengan kalangan dunia usaha yang diwakili oleh KADIN Indonesia, Apindo dan HIPMI di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (19/4/2016).

Pembahasan ini bermula saat Anggota Komisi XI Andreas Eddy Susetyo mempertanyakan pemilik dana yang diperkirakan lebih besar dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yang pada 2015 saja adalah Rp 11.450 triliun.

Dari pertanyaan tersebut, kemudian ditanggapi oleh Anggota KADIN Indonesia Albertus Banunaek. Albertus menyebutkan pemilik "dana parkir" tersebut bukanlah kalangan pengusaha. Melainkan mantan pejabat.

"Lah iya kan yang punya duit bukan pengusaha, yang punya duit kan mantan pejabat. Makanya saya bilang kalau ada asosiasi mantan pejabat itu harus diundang ke DPR," ujarnya dalam rapat tersebut.

Pemahaman dana parkir adalah uang yang diletakkan pada perusahaan di sektor keuangan. Ini berbeda dengan yang dilakukan oleh pengusaha yang misalnya membentuk badan usaha baru di negara luar negeri dengan membentuk SPV (Special Purpose Vehicle)

"SPV tu kan misalnya saya punya uang Rp 2 juta di Singapura terus saya tarik kesini, kan asal usulnya saya lewat SPV. Saya ngutang lewat singapura. Saya pakai bunga atas uang saya sendiri. Berarti saya bilang kalau duit dari pengusaha itu sudah ada di sini," jelasnya

Albertus meyakini lewat pengampunan pajak banyak orang Indonesia yang akan membawa dananya pulang. Asalkan yang dihapuskan tidak hanya pidana pajak, melainkan pidana umum.

"Kalau itu banyak pidana selain perpajakan itu iya. Karena yang paling berbahaya itu sebenarnya bukan pidana pajak, tapi pidana seperti money laundry dan lainnya juga harus dihapus," tegas Albertus.

 

Dilansir dari berbagai sumber

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});