Siswa SD Mogok Sekolah, Ngaku Diintimidasi dan Tak Diberi Izin Pipis Saat Pelajaran
Sosok Keisya Anaki Pratiwi dari SDN 1 Koto Alam (foto: Covesia.com)

Siswa SD Mogok Sekolah, Ngaku Diintimidasi dan Tak Diberi Izin Pipis Saat Pelajaran

Senin, 13 Jan 2020 | 15:49 | Amalia Purnama Sari

Winnetnews.com - Seorang siswi kelas 5 SD Negeri 1 Koto Alam, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, mengaku tidak mau bersekolah karena mengalami intimidasi dari sang guru. Bocah bernama Keisya Anaki Pratiwi itu sudah seminggu tidak mau masuk sekolah karena takut.

Dilansir dari Covesia.com, Keisya memiliki masalah dengan seorang guru dari SD 1 Koto Alam. Peristiwa ini dimulai dari masalah tempat duduk yang terjadi dua tahun silam.

Mayzur (58), nenek Keisya mengatakan bahwa salah satu guru di SD 1 Koto Alam kerap mengintimidasi Keisya selama dua tahun terakhir. Saat mengajar, Keisya kerap kali menjadi pusat perhatian karena terus-menerus ditegur atau diawasi.

“Ada satu guru di SD Keisya yang setiap mengajar selalu memperhatikan gerak-geriknya. Menoleh atau berbicara dengan teman sedikit langsung ditegur. Dibuat seperti robot cucu saya ini,” kata Mayzur, dilansir dari Covesia.com, Senin (13/01).

Keisya juga pernah sampai tidak diizinkan untuk buang air ke kamar mandi dan malah disuruh untuk duduk di belakang kelas.

“Izin buang air saja tidak boleh sama guru ini. Kemudian dia disuruh duduk bersama siswa laku-laki. Jika Keisya bertanya tidak pernah digubris. Pernah Keisya melawan dan langsung dibentak oelh guru. Ini membuat cucu saya tertekan dan takut ke sekolah,” lanjutnya.

Menilik sikap Keisya yang tidak mau sekolah, Mayzur kemudian menanyakan alasannya. Dari sinilah Keisya membeberkan apa-apa saja yang membebani pikirannya.

Keisya saat ini terus mengurung diri di rumah dan tidak berkenan keluar. Kecuali ada temannya yang datang ke rumah dan mengajaknya main ke luar.

“Sudah delapan hari cucu saya tidak mau bersekolah. Padahal sering juara kelas. Sekarang cuma mengurung diri di dalam kamar. Mau dia keluar kalau ada temannya yang menjemput. Sayang sekali, dia anaknya aktif sekarang menjadi sangat pasif,” tutur Mayzur.

Mayzur mengatakan bahwa pihaknya sudah mencoba mengadakan musyawarah dengan pihak sekolah. Ketika kepala sekolah mencoba memanggil guru yang dimaksud, secara tiba-tiba guru itu menghilang.

“Sudah kami ajak musyawarah, tapi guru tersebut malah menghilang. Sekarang kami mengajukan untuk pindah sekolah. Tapi tidak dikeluarkan surat untuk pindah oleh sekolah,” ucap Mayzur.

Mendapati kejadian ini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota, Indrawati, berjanji akan menindaklanjuti persoalan ini. Dirinya menyayangkan kejadian ini.

“Besok saya akan coba tindaklanjuti. Kenapa hal ini terjadi, apalagi Keisya merupakan siswa berprestasi di sekolah. Secepatnya solusi terbaik akan kami berikan,” kata Indrawati.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...