Soal Sengketa Pemilu, Akankah Indonesia Kacau Serupa Lima Negara Ini?

Sofia Citradewi
Sofia Citradewi

Soal Sengketa Pemilu, Akankah Indonesia Kacau Serupa Lima Negara Ini?

Winnetnews.com - Komisi pemilihan Umum telah mengumumkan pemenang pemilu 2019 yaitu pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin. Untuk menjaga agar suasana tetap kondusif dari kemungkinan segala bentuk kericuhan akibat sengketa pemilu, aparat keamanan menetapkan siaga satu untuk Jakarta.

Situsai politik selama masa pemilu memang selalu tegang. Situasi serupa juga pernah dialami beberapa negara selain Indonesia.  Sayangnya, ada beberapa negara yang berakhir ricuh karena ketegangan yang tidak terbendung hingga memicu konflik berkepanjangan. Berikut ini daftar negara yang ricuh karena sengketa pemilu.

1. Venezuela

Pada 2018 lalu, Venezuela menggelar pemilihan umum yang menghasilkan presiden petahana, Nicolas Maduro keluar sebagai pemenang alias lolos dua periode.

Henri Falcon dan Javier Betucci merupakan lawannya pada pemilu tersebut. Mereka menganggap proses pemilu tersebut adalah sandiwara palsu belaka, sehingga menolak hasil pemilu. Ada banyak dugaan penyimpangan, seperti pembelian suara dan kecurangan lainnya.

Kendati demikian Maduro tetap dilantik sebagai presiden pada 10 Januari 2019. Ini memicu krisis politik yang semakin parah. Apalagi setelah Ketua Majelis Nasional atau parlemen, Juan Guaido, mendeklarasikan diri sebagai presiden interim Venezuela, menentang kepemimpinan Maduro.

Kondisi ekonomi Venezuela pun kena imbas akibat perebutan kekuasaan antara Maduro dan Guaido.

2. Afghanistan

Pemilu 2014 di Afghanistan hampir membawa negara itu pada perang sipil. Saat itu, kedua calon presiden Afghanistan, Ashraf Ghani dan Abdullah Abdullah, sama-sama mengklaim kemenangan. Bahkan pemilu tersebut dilangsungkan dua putaran.

Abdullah Abdullah memenangkan putaran pertama. Sementara itu, Ghani meraih suara terbanyak pada putaran kedua.

Dikutip dari CNN Indonesia, saat itu banyak pihak menuduh terjadi kecurangan dalam putaran kedua pemilu lantaran pengumuman hasil penghitungan suara diundur hingga dua bulan.

Sengketa pemilu berlangsung selama 8 bulan. Pada akhirnya Ghani dan Abdullah sepakat berbagi kekuasaan 50-50 dalam pemerintahan dengan menandatangani perjanjian pembentukan pemerintah persatuan nasional. Perjanjian itu dijembatani oleh Amerika Serikat.

Dalam kesepakatan itu, keduanya sama-sama memiliki kekuasaan tinggi dalam pemerintah. Ghani berperan sebagai presiden, sementara Abdullah menjabat sebagai Kepala Eksekutif Afghanistan.

3. Pakistan

Pakistan juga mengalami kericuhan pada pemilu 2018. Parahnya, ada aksi bom bunuh diri di beberapa tempat seperti area kampanye hingga TPS menjelang dan saat hari pemungutan suara berlangsung. Akibatnya, lebih dari 200 orang tewas.

Situasi negara makin kacau ketika partai petahana, Muslim League-Nawaz (PMLN), menolak hasil pemilu yang memenangkan Imran Khan dari Partai Tehreek-e-Insaf sebagai perdana menteri baru. Militer yang disebut dekat dengan Khan diduga mencurangi surat suara untuk memenangkan pria 66 tahun itu.

4. Kongo

Sengketa hasil pemilu menodai pesta demokrasi di Republik Kongo, Afrika, pada Desember 2018 lalu. Martin Fayulu kalah dari rivalnya Felix Tshisekedi. Pihaknya pun menolak hasil pemilu.

Fayulu menuding Tshisekedi dan presiden saat itu, Joseph Kabila, memiliki kesepakatan terselubung terkait pemilu. Fayulu mengklaim meraih 62 persen suara nasional dalam pemilu.

Media Financial Times (FT) dan Radio France Internationale dalam investigasinya mengungkap kecurangan masif selama pemilu. Melalui analisis surat suara nasional yang masuk sebanyak 86 persen, FT menyebut Fayulu memenangkan pemilu dengan 59,4 persen dukungan.

Fayulu kemudian menggugat hasil pemilu itu ke Mahkamah Konstitusi Kongo dan menuntut penghitungan ulang suara, tapi ditolak. Pengumuman hasil pemilu juga diwarnai protes yang berujung kekerasan. Lima orang tewas dalam demonstrasi terpisah di Kota Kikwit serta Goma.

5. Zimbabwe

Dalam pemilu Zimbabwe pada Juli 2018 lalu, capres oposisi, Nelson Chamisa, menolak kemenangan Presiden Emmerson Mnangagwa. Rival presiden petahana itu mengklaim banyak kecurangan dalam pemilu, salah satunya anggota kepolisian disebut harus mencoblos surat suara di depan para atasan dan pengawasnya.

Protes pun berlangsung pasca diumumkannya hasil pemilu. Bahkan angkatan bersenjata dilaporkan menembak para pendemo dan saksi pemilu. Enam orang tewas dalam peristiwa tersebut.

Meski menghadapi penolakan, Mnangagwa tetap dilantik sebagai presiden pada Agustus 2018 setelah pengangkatannya ditunda menyusul petisi Chamisa yang menggugat hasil pemilu ke Mahkamah Konstitusi.

 

 

Sumber: CNN Indonesia

Apa Reaksi Kamu?