Sri Mulyani Bicara Transformasi Ekonomi Global

Sri Mulyani Bicara Transformasi Ekonomi Global

Rabu, 10 Agt 2016 | 14:56 | Gunawan Wibisono
WinNetNews.com - Dalam peringatan 39 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia pada hari ini di Bursa Efek Indonesia, Rabu (9/8), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati didaulat sebagai pembicara kunci.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan pandangannnya mengenai perkembangan ekonomi global, termasuk Indonesia di dalamnya.

Krisis keuangan Asia pada 1997-1998 dan krisis Amerika dan Eropa pada 2008-2009 disebut Sri Mulyani sebagai puncak peristiwa yang mengubah konstelasi ekonomi global. Banyak negara sampai saat ini masih berkutat pada upaya pemulihan ekonominya masing-masing.

"Ada yang masih little bit behind, ada yang masih jauh (dari pulih)," ujar Sri Mulyani.

Amerika Serikat (AS), menurutnya, negara yang pulih paling kuat dan paling cepat pada saat ini. Sementara negara-negara Eropa, pemulihannya bervariasi.

Baca juga: Pasar Modal Indonesia Jadi Saluran Dana Ke Sektor Riil

Dari Asia, Sri Mulyani menyoroti keampuhan kebijakan pembalikan keadaan (counter cyclical) yang dilakukan oleh Pemerintah China ketika krisis keuangan melanda dunia. Kebijakan tersebut dinilai efektif membalikan keadaan dan perekonomian Negeri Panda melaju paling pesat di bandingkan negara lain di dunia pasca krisis 1997-1998 dan 2008-2009.

Kombinasi kebijakan moneter dan fiskal, kata Sri Mulyani, menjadi resep jitu China untuk terbebas dari dampak krisis. Dari sisi moneter, kebijakan devaluasi mata uang dilakukan untuk menjaga nilai tukar yuan tidak terlalu kompetitif dibandingkan mata uang negara-negara mitra dagangnya di kawasan Asia.

"China melakukan competitive devaluation karena orientasinya (ekonomi) sangat ekspor," tuturnya.

Dari sisi fiskal, lanjut Menkeu, kebijakan ekspansi belanja juga pernah dilakukan China untuk membalikan keadaan ketika sejumlah negara maju di belahan benua lain tengah dilanda krisis utang. Kebijakan counter cyclical itu kemudian masif dilakukan negara-negara berkembang lain pada periode 2009-2013.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...