Sulit Berhenti Merokok? Inilah Penyebabnya

Oky
Oky

Sulit Berhenti Merokok? Inilah Penyebabnya Sumber : Istimewa

Winnetnews.com - Mengapa berhenti merokok sulit bagi banyak orang? Jawaban utamanya adalah nikotin.

Nikotin adalah zat yang secara alami ditemukan pada tembakau, yang sama adiktifnya dengan heroin atau kokain. Seiringnya waktu, seseorang menjadi ketergantungan secara fisik dan emosional terhadap nikotin. Ketergantungan fisik dapat menyebabkan gejala “sakau” saat Anda berusaha untuk berhenti. Ketergantungan emosional dan mental membuat sulit untuk menjauh dari nikotin. Studi menunjukkan bahwa untuk berhenti merokok dan tetap berhenti, perokok harus mengatasi ketergantungan fisik dan mental.

Ke mana nikotin masuk, serta berapa lama dia bertahan?

Saat Anda menghirup asap, nikotin masuk ke dalam paru-paru Anda, yang kemudian diserap ke dalam aliran darah bersama dengan karbon monoksida dan racun lainnya, mengalir ke seluruh tubuh. Faktanya, nikotin yang dihirup dari asap rokok mencapai otak lebih cepat dari obat-obatan yang diberikan melalui pembuluh darah (intravena atau infus).

Nikotin mempengaruhi banyak bagian pada tubuh, termasuk jantung dan pembuluh darah, hormon, metabolisme dan otak. Nikotin dapat ditemui pada ASI dan bahkan cairan serviks pada perokok wanita. Selama kehamilan, nikotin melewati plasenta dan ditemukan pada cairan ketuban dan tali pusar bayi.

Beberapa faktor mempengaruhi berapa lama waktu yang diperlukan tubuh untuk mengeluarkan nikotin dan produk lainnya. Pada kasus umumnya, perokok rutin akan masih memiliki nikotin dan produk lainnya seperti cotinine dalam tubuh sekitar 3 – 4 hari setelah berhenti merokok.

Bagaimana nikotin membuat kecanduan?

Nikotin memberikan perasaan yang baik dan mendistraksi perokok dari perasaan yang tidak enak. Hal ini membuat perokok ingin merokok kembali. Nikotin juga berperan sebagai depresan dengan mempengaruhi aliran antara sel saraf. Perokok cenderung merokok lebih banyak seiring sistem saraf yang beradaptasi dengan nikotin. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar nikotin pada darah perokok.

Dengan berjalannya waktu, tingkat toleransi nikotin pada perokok meningkat. Toleransi berarti diperlukan lebih banyak nikotin untuk mendapat efek yang sama dengan efek yang dulu perokok alami dengan kadar yang lebih sedikit. Pada titik tertentu, perokok mencapai kadar nikotin tertentu dan terus merokok untuk menjaga kadar nikotin.

Saat perokok menghabiskan rokoknya, kadar nikotin pada tubuh mulai menurun. Perasaan senang yang ditimbulkan rokok memudar, sehingga perokok ingin merokok lagi. Jika tidak segera merokok, perokok akan mulai merasa sensitif dan mudah marah. Biasanya hal ini tidak menyebabkan gejala “sakau” yang serius, namun perokok akan merasa semakin tidak nyaman. Saat perokok merokok kembali, perasaan tersebut hilang dan siklus berlanjut.

Gejala “sakau” dapat menyebabkan perokok kembali merokok

Saat perokok berusaha untuk berhenti, kekurangan nikotin dapat menyebabkan gejala sakau secara fisik dan mental. Secara fisik, tubuh bereaksi pada menghilangnya nikotin. Secara mental, perokok harus menghentikan kebiasaannya dan melakukan perubahan perilaku. Secara emosi, perokok mungkin akan merasa seperti kehilangan teman baik. Faktor-faktor ini harus ditangani agar proses berhenti merokok dapat bekerja dengan baik.

Perokok yang merokok secara rutin akan mengalami gejala sakau untuk beberapa minggu apabila mereka secara langsung berhenti merokok. Gejala biasanya dimulai dari beberapa jam setelah rokok terakhir dan memuncak 2 – 3 hari setelahnya saat nikotin keluar dari tubuh. Gejala sakau dapat berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu. Gejala akan membaik apabila Anda tetap terhindar dari rokok.

Gejala sakau dapat meliputi:

Pusing (dapat berlangsung 1 – 2 hari setelah berhenti)

Depresi

Frustrasi, tidak sabar, marah

Cemas

Mudah marah

Gangguan tidur, kesulitan tidur dengan nyenyak, mimpi buruk

Kesulitan konsentrasi

Letih atau bosan

Sakit kepala

Lelah

Peningkatan napsu makan

Peningkatan berat badan

Konstipasi

Batuk, mulut kering, radang tenggorokan dan nasal drip

Sesak pada dada

Detak jantung menurun

Gejala-gejala tersebut dapat membuat perokok kembali merokok untuk mendapatkan kadar nikotin hingga gejala hilang.

Zat lain pada asap rokok

Terdapat bukti bahwa zat kimia pada asap rokok dapat berperan bersama nikotin untuk membuat berhenti merokok semakin sulit. Efek merokok pada monoamine oxidase (zat kimia pada otak) sedang dipelajari. Pada beberapa orang, berhenti merokok dapat menyebabkan masalah pada mood, yang dapat memperburuk keinginan merokok.

Berhenti merokok tidaklah gampang, namun Anda dapat melakukannya. Untuk berhasil berhenti dan tetap menjadi non-perokok, Anda perlu mengetahui apa yang Anda ingin hindari, apa saja pilihan Anda, dan ke mana Anda harus mencari bantuan.

Apa Reaksi Kamu?