Surya Paloh Sinyalkan Partainya Siap Jadi Oposisi, Pengamat: “Tanda Kecewa”

Sofia Citradewi
Sofia Citradewi

Surya Paloh Sinyalkan Partainya Siap Jadi Oposisi, Pengamat: “Tanda Kecewa” Partai Nasdem siap menjadi oposisi jika semua partai gabung koalisi, Surya Paloh: Negara sudah berubah menjadi negara otoriter, atau bermonarki. (Foto: Tribunnews)

Winnetnews.com - Pengamat politik  dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin melihat kesiapan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh menjadi oposisi sebagai bentuk kekecewaan. Ujang menyebut Surya Paloh kecewa lantaran Gerindra bergabung ke dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Menurut Ujang, kekecewaan Surya Paloh kepada Jokowi tersinyalir lantaran Gerindra dan Prabowo dinilai begitu saja masuk pemerintahan tanpa ada perjuangan dalam memenangkan Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019. Sementara Nasdem dan Surya Paloh diketahui turut ambil bagian dalam pemenangan Jokowi-Ma’ruf.

“Pertama menandakan kekecewaan, menandakan kekecewaan bahwa Gerindra termasuk Prabowo masuk koalisi Jokowi. Nasdem menilai dan menimbang bahwa mereka (Gerindra dan Prabowo) tidak berdarah-darah, tidak berkeringat untuk masuk,” kata Ujang, seperti dikutip dari laman Suara, Selasa (22/10/2019).

Selain itu, Ujang menilai kekecewaan Surya Paloh tersebut ada hubungannya dengan terancamnya Nasdem untuk tidak mendapatkan posisi Jaksa Agung. Sebab, Jokowi dapat dipastikan akan menempatkan kalangan profesional sebagai Jaksa Agung.

“Nasdem juga diusik persoalan Jaksa Agung yang tidak akan diberikan ke Nasdem lagi, Pak Jokowi ingin diberikan ke profesional. Itu dua hal menurut saya paling tidak membuat Nasdem kecewa dan amarah sehingga berpikir berkeinginan ingin menjadi oposisi. Walaupun, belum tentu,” terangnya.

Seperti diketahui, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh menilai kemungkinan Partai Gerindra dapat bergabung ke dalam pemerintahan Jokowi akan semakin membuat koalisi pemerintah semakin gemuk. Menurutnya, jika tidak ada oposisi maka pemerintahan Jokowi pun bisa berpeluang ke arah sistem otoritarian.

“Tidak baik kalau tidak ada check and balances, tak lagi oposisi, demokrasi selesai. Negara cenderung akan otoriter dan monarki,” kata Surya Paloh usai pelantikan Jokowi-Ma’ruf pada Minggu (20 Oktober 2019) lalu.

Bahkan Surya Paloh punmenyampaikan, jika nantinya tidak ada lagi partai penyeimbang, Nasdem akan siap keluar dari koalisi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf.

“Kalau tidak ada yang mau jadi oposisi, Nasdem saja jadi oposisi,” tandasnya.

 

Apa Reaksi Kamu?