Tak Terapkan City of Intellect, Megawati: Sekarang Jakarta Jadi Amburadul

Anggara Putera Utama

Dipublikasikan setahun yang lalu • Bacaan 2 Menit

Tak Terapkan City of Intellect, Megawati: Sekarang Jakarta Jadi Amburadul
Foto: Kompas.com

Winnetnews.com -  Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri menyoroti kondisi DKI Jakarta saat ini yang menurutnya amburadul. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan Jakarta tak menerapkan konsep city of intellect.

Konsep city of intellect itu sendiri, jelas Megawati pertama kali disampaikan oleh Soekarno. Ia mengatakan, modal dasar yang harus dimiliki sebuah kota agar bisa disebut kota yang baik adalah menerapkan konsep city of intellect.

"Modal dasar untuk memberikan penganugerahan pada banyak kota, untuk pengertian siapa yang mendekati secara lapangan, yang seperti apa yang dikatakan Bung Karno, yang telah dibuat beliau yaitu city of intellect," kata Megawati saat menyampaikan pidato secara virtual, Selasa (10/11).

Menurut Megawati, Jakarta seharusnya dapat menerapkan konsep ini."Persoalannya sekarang Jakarta jadi amburadul karena seharusnya city of intellect dapat dilakukan. Tata kota, master plan siapa yang buat, tentunya para akademisi," kata Ketum PDIP ini.

Megawati kemudian membagikan ceritanya ketika pertama kali pindah dari Yogyakarta ke Jakarta. Ia saat itu ingin belajar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, apa daya, banyak teman-temannya di Jakarta menggunakan bahasa yang informal.

"Saya senang sekali diundang untuk ini karena saya adalah saksi melihat kota Jakarta ini. Dulu waktu pindah dari Jogja tahun 50, saya enggak bisa berbahasa Indonesia yang baik, yang proper. Karena teman-teman saya ngomongnya lu, gue," ujar Ketua Dewan Pengarah BPIP ini.

"Karena kan masyarakat Betawi ya. Jadi bapak, ibu saya suka pusing. Ya, saya belajar bahasa Indonesia yang baik tapi kalau keluar gimana saya berbahasa Indonesia yang baik kalau teman saya lu, gue," ujarnya.

Ia lalu juga bercerita soal Jakarta yang hanya dikenal dengan kawasan Menteng. Namun kini  seiring dengan perkembangan zaman, kawasan lain akhirnya juga dikenal.

"Dan Jakarta itu hanya Menteng inilah. makanya anak-anak di Menteng dibilang lu tinggal di mana, saya Anmen (anak Menteng). Jadi kebayang enggak saya ngalamin. Baru setelah itu ada Kebayoran dan lain-lain," pungkasnya.

Share This Story

RELATED ARTICLE

Loading interface...