Tangis Haru Penduduk Rohingya Pasca Putusan Pengadilan Internasional
Warga minoritas Muslim Rohingya menyaksikan putusan Pengadilan Internasional terkait perlindungan oleh Myanmar. [Foto: CNN]

Tangis Haru Penduduk Rohingya Pasca Putusan Pengadilan Internasional

Jumat, 24 Jan 2020 | 09:49 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Raut kegembiraan tergambar dari wajah para pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh pasca putusan Pengadilan Internasional (Internasional Court of Justice/ICJ) terkait kasus pembantaian massal atau genosida yang dilakukan Myanmar.

Para pengungsi Rohingya di sejumlah kamp pengungsian Bazar Cox menyaksikan siaran langsung pembacaan putusan ICJ yang berbasis di Den Haag, Belanda, melalui siaran televisi.

“Putusan ini membuat kami berharap tentang repatriasi yang kami inginkan, repatriasi dengan keamanan dan martabat, ke Arakan (Rakhine)," ujar Abdur Rahim, salah seorang pengungsi yang bertugas sebagai wakil presiden Masyarakat Arakan Rohingya untuk Perdamaian dan Hak Asasi Manusia, sebuah lembaga nirlaba.

"Semua orang Rohingya senang dengan keputusan itu," imbuh Rahim seperti dikutip SINDOnews dari Radio Free Asia, Jumat (24/1).

Putusan ICJ itu bermuatan tentang Myanmar perlu mengambil berbagai langkah atas perlindungan terhadap warga minoritas Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan akibat kekejaman yang dilakukan otoritas Myanmar.

Hakim juga memerintahkan Myanmar untuk menahan diri dari menghancurkan semua bukti dugaan kejahatan yang dapat digunakan dalam pemeriksaan di masa depan.  Ketika para hakim menjatuhkan putusan mereka, beberapa pengungsi Rohingya di Bangladesh menangis. Sementara yang lain mulai berdoa.

Kasus terhadap Myanmar diajukan ke Pengadilan Internasional oleh Gambia, negara kecil di Afrika Barat yang mayoritas rakyatnya beragama Muslim. Gambia mendesak ICJ untuk memastikan bahwa kekejaman terhadap orang-orang Rohingya tidak berlanjut.

Bulan lalu, pengacara yang mewakili Gambia mengutip informasi dari komisi pencarian fakta yang dimandatkan PBB, yang laporan akhirnya menyimpulkan bahwa serangan terhadap Rohingya di Rakhine dilakukan dengan niat genosida.

“Pengaduan Gambia menceritakan penderitaan dan rasa sakit kami. Putusan ini memberi kami perasaan bahwa kami bisa mendapatkan pengakuan sebagai Rohingya di Myanmar. Kami berterima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” ujar seorang wanita Rohingya yang tinggal di kamp Lambarshia di Cox's Bazar, Shahana Akter.

Putusan ICJ ini juga disambut baik oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Bangladesh, A.K. Abdul Momen. Ditengah lawatannya ke Ekuador, Momen memuji putuan ICJ. Dia menyebut putusan itu kemenangan bagi kemanusiaan dan tonggak sejarah bagi para aktivis hak asasi manusia di semua negara.

Sejak 2018, Bangladesh dan Myanmar telah mendorong rencana bilateral untuk pemulangan sukarela pengungsi Rohingya dari kamp di dan sekitar Cox's Bazar. Program ini gagal lepas landas karena para pengungsi telah menolak untuk kembali ke Rakhine, menyuarakan kekhawatiran tentang keselamatan mereka dan kewarganegaraan di Myanmar.

Lebih dari 740.000 Rohingya menyeberang ke Bangladesh ketika mereka melarikan diri dari serangan militer yang brutal, yang diluncurkan setelah serangan oleh pemberontak Rohingya terhadap pos-pos polisi dan tentara di Rakhine pada Agustus 2017. [sindo]

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...