Tax Amnesty Terobosan Memecah Kebuntuan Pajak

Tax Amnesty Terobosan Memecah Kebuntuan Pajak

WinNetNews.com - Kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty, akan di keluarkan oleh pemerintah untuk wajib pajak (WP) orang Indonesia yang menyimpan dana di luar negeri. Saat ini, pemerintah masih menggodok aturan pengampunan pajak.

Kebijakan itu menuai kritik, salah satunya dari Profesor asal Harvard Kennedy School Jay K Ronsegard menilai itu adalah kebijakan yang bodoh karena mengabaikan unsur keadilan. Selain itu, kritikan juga datang dari Direktur Fiskal Departemen IMF (International Monetary Fund), Michael Keen yang menyatakan tidak ada alasan kuat bagi pemerintah untuk membuat kebijakan pengampunan pajak.

Namun, menurut Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, kebijakan tax amnesty adalah terobosan untuk menembus persoalan mengakar di sisi penerimaan pajak. Tampak pada sisi rasio pajak yang sampai sekarang baru mencapai 12%.

 

"Saya melihatnya tax amnesty itu sebagai suatu terobosan untuk memecah kebuntuan yang terjadi selama ini," ungkapnya di Nusa Dua, Bali,seperti di lansir dari detik finance, Jumat (12/12/2015).

Persoalan lainnya adalah tidak adanya akses Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk menyentuh wajib pajak (WP) lewat perbankan. Maka akan semakin sulit untuk DJP memperkuat basis data WP, baik yang ada di dalam maupun luar negeri.

"Punya nggak pajak akses terhadap perbankan? Nggak punya, kan? Udah banyak WP nggak bener, terus akses ke perbankannya susah," jelasnya.

Banyak negara yang mengambil keputusan untuk mengeluarkan kebijakan pengampunan pajak. Bambang menyebutkan seperti Afrika Selatan, Italia dan Australia mendapatkan hasil yang memuaskan bagi negaranya.

 

"Kalau dibilang jelek dan segala macem, kembali lagi, banyak kok negara yang melakukan. Yang saya sering cerita kan Italia melakukan, Afrika Selatan melakukan, Australia juga melakukan dari waktu ke waktu," papar Bambang.

Menurutnya kebijakan ini adalah persoalan biasa bagi banyak negara di dunia. Hanya saja Indonesia jarang melakukannya.  "Jadi ini sebenarnya hal biasa, cuma dibikin besar karena di kita jarang dilakukan," tegasnya.