Teknologi Baru Pertamina Tingkatkan Produksi Minyak

Teknologi Baru Pertamina Tingkatkan Produksi Minyak

Rabu, 20 Jan 2016 | 14:06 | Muhammad Takdir
WinNetNews.com - PT Pertamina (Persero) menggunakan teknologi paling mutakhir yang memanfaatkan katalis untuk mengonversi minyak berat atau residu, baik atmosferik maupun vacuum residue oils, menjadi produk yang lebih bernilai, utamanya gasoline dan beberapa produk lainnya, seperti liquefied petroleum gas (LPG) dan propylene pada unit Residuel Fluid Catalytic Cracker (RFCC) pada Kilang Cilacap Jawa Tengah.

“RFCC nantinya meningkatkan produksi premium dari Kilang Cilacap menjadi 91.000 barel per hari (bph) dari sebelumnya 61.000 bph dengan memanfaatkan residue dari unit-unit pengolahan yang ada sebelumnya,” ujar VP Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, di Jakarta. RFCC merupakan bagian road map pengembangan kilang Pertamina untuk memenuhi kebutuhan pasar dan tuntutan teknologi kendaraan di masa mendatang.

Menurut Wianda, RFCC Cilacap akan meningkatkan produksi LPG menjadi 1.066 metrik ton per hari dan 430 metrik ton per hari. Artinya, produk-produk residu yang selama ini dijual murah, setelah adanya RFCC dapat diolah kembali menjadi produk bernilai jual tinggi sehingga dapat meningkatkan keekonomian kilang Cilacap. Perseroan menargetkan kilang Cilacap akan memproduksi 91.000 bph pertamax RON 92 setelah beroperasinya unit Residuel Fluid Catalytic Cracker (RFCC) dan Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC).

 

Menurut Wianda unit RFCC nanti dapat memproduksi sekitar 37.000 barel per hari high octane mogas component (HOMC), yang sebagian besar digunakan untuk memproduksi premium dengan kapasitas 30.000 barel per hari dari Kilang Cilacap. Dengan demikian, total produksi premium Kilang Cilacap akan mencapai sekitar 91.000 barel per hari. Kelebihan HOMC dari kilang Cilacap bisa digunakan untuk memproduksi pertamax dan atau premium di kilang-kilang lain.

Kilang-kilang Pertamina saat ini memiliki Nielsen Index Complexity (NCI) yang relatif rendah, yaitu rata-rata 5-6. Perseroan melalui program dan proyek peningkatan kapasitas kilang menargetkan meningkatkan NCI menjadi rata-rata 9. Bahkan, untuk kilang Cilacap sebelum RFCC nilai NCI masih di level 3 sehingga kandungan residunya cukup tinggi. Nantinya, NCI ini akan meningkat secara bertahap mulai dengan masuknya RFCC, lalu Program Langit Biru Cilacap, dan dilanjutkan dengan RDMP yang head of agreement (HoA)-nya akan segera ditandatangani antara Pertamina dan Saudi Aramco pada bulan ini.

Komisi VII DPR dari Fraksi PAN, Fallah Amru mendukung kebijakan manajemen Pertamina yang mengembangkan RFCC Cilacap karena Indonesia membutuhkan kilang baru dan optimalisasi kilang yang sedang beroperasi. Namun menurut Fallah yang harus dipertimbangkan adalah seberapa besar tingkat efisiensi yang ditawarkan teknologi tersebut. Ini tentu terkait dengan kemampuan produksi jika dibanding dengan teknologi lama. “Selain itu pertimbangan berapa besar investasi juga harus ada. Dan terakhir aspek lingkungan karena antara tata kelola migas dan lingkungan punya keterkaitan yang sangat erat,” katanya.

(seperti dilansir dari Berita Satu)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...