Tepatkah Hukum Kebiri Kimia? Ini Penjelasan KPAI

Khalied Malvino
Khalied Malvino

Tepatkah Hukum Kebiri Kimia? Ini Penjelasan KPAI Ilustrasi predator seks terhadap anak. (Foto: Tribunnews)

Winnetnews.com - Aris, pelaku yang dihukum kebiri kimia lantaran memperkosa sembilan anak di bawah umur di Mojokerto, Jawa Tengah menjadi satu kasus hukum baru di Indonesia. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun angkat bicara perihal hukum kebiri kimia ini.

KPAI menilai hukum kebiri kimia merupakan salah satu efek jera bagi predator seks terhadap anak di bawah umur. Mengutip Okezone, Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi Anak, Ai Maryati Solihah menjelaskan, efek jera itu juga bertujuan agar meminimalisir kejahatan seksual terhadap anak ke depannya.

"Bayangkan 9 anak dicabuli ini tentu menenuhi jadi makna filosofisnya adalah penjeraan dan upaya hukum untk tidak meminalisir tidak terjadi kembali," kata Ai, Rabu (28/8/2019).

Oleh sebab itu, Ai menyatakan mengapresiasi keputusan dari keputusan dari Pengadilan Negeri Kabupaten Mojokerto yang menjatuhkan hukuman kebiri terhadap pelaku tersebut.

"Kami apresiasi karena itu sudah menjadi ketetapan hukum dan ini sudah diimplementasi inkrah itu ranah PN Jaksei memang keputusan Hakim dihormati," ujar Ai.

Menurut Ai, wajar apabila sebagian pihak ada yang menyatakan bahwa hukuman itu telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Namun, kata Ai, kejahatan seksual terhadap anak adalah tindak pidana yang bukan sembarangan dalam proses penegakan hukumnya.

"Kalau kami memandang sudah sesuai rulenya jadi tinggal bagaimana kita menyikapinya semua orang bicara semua orang teriak, tetapi konteks kita ingin produktif dudukan masalah pada rule sesungguhnya," papar Ai.

Apalagi, AI mengungkapkan, KPAI sudah berjuang keras dan mati-matian memperjuangkan penindakan hukum kejahatan terhadap anak agar dilakukan secara maksimal.

"Kami sudah tiga tahun berdarah-darah membahas soal pelanggaran ham atau tidak dalam konteks penegakan hukum saat ini ketika sudah dilaksanakan ya sesuai prosedur," tutup Ai.

Melansir Merdeka.com, Muhammad Aris sejak 2015 lalu terbukti telah mencabuli 9 anak gadis yang tersebar di Mojokerto. Modusnya, sepulang kerja menjadi tukang las dia mencari mangsa, kemudian membujuk korbannya dengan iming-iming dan membawanya ke tempatnya sepi lalu melakukan perbuatan asusila pada korban.

Namun nahas, aksi pelaku sempat terekam kamera CCTV salah satu perumahan di Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Kamis (25/10/2018) sekitar pukul 16.30 WIB. Pelaku berhasil diringkus polisi pada 26 Oktober 2018.

Lalu, Hakim Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto menjatuhkan vonis bersalah pada Aris karena melanggar Pasal 76 D juncto Pasal 81 ayat (2) UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak. Vonis tersebut tertuang dalam Putusan PN Mojokerto nomor 69/Pid.sus/2019/PN.Mjk tanggal 2 Mei 2019.

Hukuman 12 tahun penjara dan denda Rp100 juta subsider 6 bulan kurungan pun dijatuhkan pada Aris. Sebagai hukuman tambahan, hakim memerintahkan pada jaksa agar melakukan 'kebiri kimia'.

Dalam kasus ini, Aris sempat minta banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur karena tidak terima dengan putusan hakim. Namun, oleh hakim PT, putusan hakim Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto justru dikuatkan.

Vonis tersebut tertuang dalam Putusan PT Surabaya nomor 695/PID.SUS/2019/PT SBY tanggal 18 Juli 2019. Putusan ini pun dianggap berkekuatan hukum tetap, lantaran Aris tak lagi mengajukan keberatan alias kasasi.

Apa Reaksi Kamu?