Terobosan Teknologi Minyak Akan Meningkatkan Produksi?

Terobosan Teknologi Minyak Akan Meningkatkan Produksi?

Senin, 18 Jan 2016 | 18:25 | Muhammad Takdir
WinNetNews.com - Kondisi investasi minyak bumi dan sektor manufaktur yang lesu serta pasar saham yang terjun bebas membuat rakyat Amerika bertanya-tanya kapankah mereka mulai mendapat manfaat dari minyak murah.

Di sisi lain, harga minyak mentah telah merosot 70% sejak pertengahan 2014 dan tahun ini turun lagi di bawah US$ 30 per barel. Itu merupakan penurunan harga yang tak terbayangkan baru-baru ini, sejak 18 bulan lalu yakni pada saat harga mencapai US$ 110 per barel.

Adanya terobosan teknologi hydraulic fracturing atau fracking – teknik penggalian sumur untuk mendapatkan minyak melalui penghancuran bebatuan dengan memompakan cairan bertekanan tinggi – telah merevolusi pasar emas hitam sehingga menjadikan Amerika Serikat (AS) sebagai eksportir minyak terkemuka di dunia.

Lalu apa penyebabnya melakukan hal-hal yang membuat rakyat Amerika kebanyakan menjadi suram? Menurut ekonom, ini kemungkinan hanya masalah waktu, Minggu (17/1).

 

Menurut Angel Ubide dari Lembaga Peterson bidang Ekonomi Internasional, pada pendapatan bersih, penurunan harga minyak adalah atau akan membuat ekonomi AS positif. Karena dampak yang negatif terjadi lebih cepat dan lebih terkonsentrasi dalam waktu.

“Jika kita melihat dalam kurun waktu dua atau tiga tahun, kita dapat menyimpulkan bahwa penurunan harga minyak pada pendapatan adalah positif. Tapi kita memerlukan beberapa waktu untuk mencapai itu,” ujarnya kepada AFP.

Sementara itu Steve Murphy dari Capital Economics lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pendapat, dengan mengatakan banyak yang akan bergantung pada berapa lama harga minya masih tetap rendah.

“Besaran dan durasi kemerosotan harga minyak sudah jauh melampaui dari yang kami harapkan pada awalnya, dan semakin lama terus berlanjut sehingga semakin sulit untuk beranggapan bahwa penurunan akan menjadi pendapatan positif bagi ekonomi AS,” katanya.

Menurut Murphy, harga yang lebih rendah seharusnya dapay mendorong pertumbuhan ekonomi riil di AS. Sebaliknya, sukses pada investasi dalam negeri tak ada hentinya, sementara rumah tangga masih belum membelanjakan simpanannya.

 

Sementara itu, otoritas keuangan AS, dimulai dengan Gubernur bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen menegaskan bahwa harga bensin yang lebih rendah harus membebaskan daya beli konsumen. Harga bensin premium di SPBU AS saat ini rata-rata di bawah US$ 2 per galon, dan merupakan angka terendahnya selama tujuh tahun.

Namun beberapa isyarat dari dampak belanja konsumen telah terwujud, bahkan jika konsumen Amerika masih bergerak dari level modest hari ini terhadap pertumbuhan AS.

Hal tersebut dapat dilihat dari angka resmi yang diperlihatkan, Jumat (15/1), di mana penjualan ritel hanya naik 2,1% pada 2015 atau turun dari rata-rata tahunan 5,1% dari 2010 hingga 2014.

Murphy mengatakan rakyat Amerika Serikat sudah berhemat US$ 115 miliar berkat bensin murah selama 18 bulan terakhir, ketimbang membelanjakannya. “Tabungan pribadi telah meningkat US$ 120 miliar mengingat rumah tangga selalu menyimpan kembalian dari harga SPBU yang lebih rendah,” tuturnya.

(seperti dilansir dari Berita Satu)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...