Terungkap! Dokumen Milik China Bocor ke Publik, Isinya Mencengangkan

Khalied Malvino
Khalied Malvino

Terungkap! Dokumen Milik China Bocor ke Publik, Isinya Mencengangkan Muslim Uighur. [Foto: Motherjones.com]

Winnetnews.com - Fakta mengejutkan terlampir dalam setumpuk dokumen Pemerintah China yang bocor ke publik. Dokumen tersebut berisi tentang penahanan massal terhadap warga Muslim Uighur, Kazakh, dan minoritas Muslim lain di wilayah Xinjiang, China.

Dokumen setebal 403 halaman itu diperoleh media lokal Amerika Serikat (AS), The New York Times dari salah seorang anggota partai politik (parpol) di China.

Melansir Republika.co.id, dalam dokumen itu dibahas mengenai bagaimana Presiden China Xi Jinping memberikan pidato internal kepada para pejabat selama dan setelah kunjungan ke Xinjiang lima tahun silam.

Penyampaian pidato itu dilakukan setelah serangan penikaman oleh gerilyawan Uighur di sebuah stasiun kereta api yang menewaskan 31 orang.

Dalam laporan tersebut, Xi menyerukan perjuangan habis-habisan melawan terorisme, infiltrasi, dan separatisme menggunakan sistem kediktatoran. Dia meminta menindak hal tersebut tanpa ampun.

Dalam pidatonya, Xi mengatakan, Xinjiang telah tumbuh sangat cepat. Standar hidup pun telah meningkat secara konsisten. Namun, secara bersamaan, separatisme etnis dan terorisme masih meningkat.

"Ini menunjukkan pembangunan ekonomi tidak secara otomatis membawa ketertiban dan keamanan," kata Xi dalam pidatonya kepada pejabat partai.

Di lain sisi, dokumen-dokumen yang bocor menunjukkan meningkatnya ketakutan pemimpinan Cina terhadap serangan teroris di negara-negara lain. Ditambah, penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Tidak diketahui bagaimana dokumen tersebut dikumpulkan dan dipilih hingga bisa bocor.

Bocoran ini juga menunjukkan bagaimana para pejabat diajari cara untuk menjelaskan kepada siswa dan mahasiswa yang anggota keluarganya telah dibawa pergi untuk pelatihan. Panduan ini merekomendasikan jawaban bahwa keluarga atau kerabat mereka telah terpapar paham radikalisme, sehingga harus di karantina.

Presiden China, Xi Jinping. [Foto: Nambucca Guardian]

"Jika mereka tidak menjalani studi dan pelatihan, mereka tidak akan pernah sepenuhnya memahami bahaya ekstremisme agama," kata salah satu rekomendasi jawaban di dokumen tersebut.

Dokumen juga mengarahkan agar mahasiswa bersyukur karena pihak berwenang mengamankan keluarga atau kerabat mereka.

“Hargai kesempatan ini untuk mendapatkan pendidikan gratis yang telah disediakan partai dan pemerintah untuk memberantas pemikiran keliru dan juga belajar keterampilan berbahasa Cina,” kata salah satu jawaban.

Dalam laporannya, The New York Times menjelaskan, kamp-kamp pengasingan berkembang cepat setelah Chen Quanguo diangkat sebagai bos partai di wilayah itu pada Agustus 2016.

Chen mengambil jalan keras untuk memadamkan kegelisahan terhadap kekuasaan Partai Komunis. Kementerian Luar Negeri Cina tidak segera menjawab permintaan dari Reuters untuk menanggapi dokumen-dokumen yang bocor tersebut pada Minggu (17/11).

Para pakar dan aktivis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, setidaknya sejuta warga Uighur dan anggota kelompok minoritas Muslim lainnya telah ditahan di kamp-kamp di Xinjiang. Tindakan keras ini mendapat kecaman dari AS dan negara-negara lain.

Beijing membantah melakukan penganiayaan terhadap warga Uighur atau lainnya di Xinjiang. Mereka mengatakan, Cina memberikan pelatihan kejuruan untuk membantu memberantas ekstremisme dan separatisme Islam serta mengajarkan keterampilan baru. [republika]

Apa Reaksi Kamu?