Tetapkan Mbah Priok Sebagai Cagar Budaya, Ahok Dinilai Kehilangan Akal Sehat
Makam Mbah Priok yang diputuskan sebagai salah satu Cagar Budaya di Jakarta Utara.

Tetapkan Mbah Priok Sebagai Cagar Budaya, Ahok Dinilai Kehilangan Akal Sehat

Senin, 6 Mar 2017 | 11:20 | kontributor

WinNetNews.com - Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias ahok telah membacakan surat keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta tentang penerapan makam Mbah Priok sebagai salah satu kawasan Cagar Budaya di daerah Priok, Jakarta Utara, Sabtu (4/3/17) kemarin. Dalam pembacaan SK tersebut ada beberapa kejadian yang menyedot perhatian publik, lantaran Ahok marah karena telah diberikan SK fotokopi-an yang isinya belum direvisi. Sehingga isi dari poin kedua dalam SK yang dibacakan Ahok itu, tidak sesuai dengan yang Ahok inginkan.

Kontroversi penetapan SK Makam Mbah Priok menjadi salah satu cagar budaya tidak berhenti sampai disitu saja. Sejarawan JJ Rizal menilai kalau langkah Ahok menetapkan Makam Mbah Priok menjadi cagar budaya adalah tindakan yang 'kehilangan akal sehat'. Alasanya adalah karena kebijakan tersebut dilakukan Ahok tanpa melalui dari tim ahli yang membidangi soal cagar budaya. Atau dengan kata lain Ahok menetapkan SK ini secara sepihak.

"Kalau dia (Ahok) akalnya memang sehat, prosedurnya harus melalui tim ahli cagar budaya dan benda bersejarah. Harus ada rekomendasinya dulu dari tim itu. Tapi ini kan tidak," ujar Rizal Dilansir dari Republika, Ahad (5/3).

Dia mengatakan, Ahok tidak sekadar menyalahi prosedur saat menetapkan Makam Mbah Priok sebagai cagar budaya. Mantan bupati Belitung Timur itu, kata Rizal, juga menafikan berbagai kajian ilmiah dan fakta historis tentang sejarah Islam di Jakarta, terutama di kawasan Tanjung Priok.

Dia menjelaskan, sampai saat ini tidak ada satu pun hasil penelitian maupun bukti sejarah yang mengungkap tentang sepak terjang Mbah Priok dalam proses syiar Islam di Jakarta. Secara historis, dalam jaringan orang yang dianggap berjasa mengislamkan tanah Betawi pun, juga tidak tercantum nama Mbah Priok alias Habib Hasan al-Hadad.

Rizal menuturkan, ada banyak karya akademik yang bisa dijadikan sebagai referensi dalam menelusuri perkembangan Islam di Jakarta. Beberapa contoh di antaranya adalah hasil studi Abdul Aziz (1998) yang mengangkat tajuk 'Islam dan Masyarakat Betawi', serta disertasi karya Muhammad Zafar Iqbal (2002) berjudul 'Islam di Jakarta: Studi Sejarah Islam dan Budaya Betawi'.

"Dari semua karya akademik itu, tidak ada satu pun yang memuat nama Mbah Priok. Begitu pun dengan dokumen-dokumen sejarah yang merekam keberadaan komunitas Hadramaut dan koloni Arab di Nusantara, termasuk karya LWC van den Berg pada 1886 silam, juga tidak didapati nama Mbah Priok di dalamnya," ungkap Rizal.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...