(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

The Fed Hanya Menunda Masalah

Rusmanto
Rusmanto

The Fed Hanya Menunda Masalah

Federal Reserve (The Fed) memutuskan menahan tingkat suku bunga acuannya dan keputusan ini bisa disebut sebagai memperlama masa ketidak-pastian bagi para investor keuangan dunia.

Menko Perekonomian, Darmin Nasution, menilai penundaan ini sama saja dengan menunda masalah. Karena masih timbul spekulasi di pasar keuangan dunia, The Fed akan menaikkan bunga acuan pada Desember nanti.

Gejolak akan muncul lagi menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan berlangsung akhir tahun ini.

"Dia tidak naikkan, tidak ada gejolak, tetapi spekulasi akan datang lagi nanti, menjelang ada lagi rapat dari FOMC," jelas Darmin di kantor Presiden, Jakarta, Jumat (18/9/2015).

"Positifnya ya, tidak ada gejolak. Nah, aneh kalau ada gejolak. Tetapi ini menunda persoalan. Seandainya naik, ada gejolak tapi ada solusi," imbuh Darmin.

Meski begitu Darmin menyadari, keputusan suku bunga acuan dilematis bagi ekonomi AS. Naik atau tidaknya suku bunga acuan tetap memberikan dampak negatif dan positif.

Darmin menjelaskan, bila ada kenaikan suku bunga, maka akan timbul gejolak di pasar keuangan. Namun diperkirakan hanya sebentar, dan masing-masing negara bisa kembali menata fundamental ekonominya.

"Sebenarnya kan, The Fed itu dia mau naikkan bunga atau tidak naikkan bunga itu dilematis saja buat dia, termasuk Indonesia. Dia naikkan, akan ada gejolak sebentar, mungkin gejolak agak besar, habis itu agak reda, dan sesuaikan diri," ujar Darmin.

Jadi, keputusan The Fed yang dipimpin Janet Yellen ini bukan hadiah yang bisa dinikmati Indonesia.

"Dia bukan spare (memberi) waktu, tapi tidak bisa naikkan. Ini bukan hadiah yang bisa kita nikmati. Kenapa dia tidak naikkan? Karena dia anggap rugi kalau dinaikkan," tegas Darmin.

Fungsi The Fed itu ada dua, yaitu menjaga nilai tukar dan menjaga posisi kesempatan kerja. Berbeda dengan Indonesia, di mana BI hanya berfungsi menjaga nilai tukar rupiah.

"The Fed fungsinya ada dua, jaga nilai dolar, dan menjaga employment (penyerapan tenaga kerja), kesempatan kerja. Nah, kenapa dia tidak naikkan, angka employment-nya belum bagus. Kalau bagus, udah dia naikkan," ujarnya.

Di samping itu, AS masih memiliki kerentanan dari sisi inflasi. Kemudian juga dolar AS yang menguat terlalu tajam terhadap banyak mata uang, sehingga mempengaruhi ekspor dan berlanjut terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Kalau dia naikkan, perbaikan yang terjadi di sana, bisa balik tidak bagus," tegas Darmin. 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});