Tiga Sosok Internasional ini Diyakini Bakal Undang Banyak Investor di Rencana Pemindahan Ibu Kota Baru RI
Eks Perdana Menteri (PM) Inggris, Tony Blair. [Foto: Financial Review]

Tiga Sosok Internasional ini Diyakini Bakal Undang Banyak Investor di Rencana Pemindahan Ibu Kota Baru RI

Kamis, 16 Jan 2020 | 10:17 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Penunjukan eks Perdana Menteri (PM) Inggris, Tony Blair, Chief Executive Officer (CEO) Softbank, Masayoshi Son, serta Putera Mahkota Abu Dhabi, Muhamed bin Zayed, sebagai Dewan Pengarah Ibu Kota Baru RI dinilai cukup baik oleh berbagai pihak, terutama di kalangan internal pemerintah.

Diberitakan Tempo.co, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Badan Perencanaan Pembagunan Nasional (PPN/Bappenas), Suharso Monoarfa membeberkan alasan keterlibatan tiga pemimpin asing tersebut.

Suharso yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menilai, keterlibatan tiga orang ini merupakan bentuk internasionalisasi dari rencana pemerintah memindahkan ibu kota ke Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) di Kalimantan Timur (Kaltim).

"Ada pertimbangan yang lain, yaitu proses internasionalisasi. Maksudnya adalah sosialisasi secara internasional sehingga bisa menundang para investor untuk ikut berperan dalam pembangunan ibu kota baru," ujar Suharso saat ditemui di Kantor Presiden, Rabu (15/1).

Suharso mengatakan mereka diminta untuk mengisi posisi ini dan telah menyatakan kesediaannya.

"Tentu dewan pengarah ini tidak hanya mereka, tapi juga ada sebagian dari dalam negeri, termasuk para menteri di Kabinet Indonesia Maju," kata Suharso.

Hal senada juga disampaikan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan (LBP). Ia mengatakan alasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memilih ketiga sosok ini dikarenakan figur yang mereka punya.

"Kami ingin ada figur internasional di dalam rencana pemindahan ibu kota," kata Luhut.

Pemerintah tidak mempersoalkan rekam jejak Blair yang pernah membawa Inggris terlibat dalam invasi Irak pada 2003.

 "Ya itu bukan urusan kami," kata Luhut saat ditemui usai menghadiri diskusi di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (15/1). [tempo]

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...