Tiga Unsur Penguat Puing di Pulau Reunion adalah MH370

Cincin Suryanto
Cincin Suryanto

Tiga Unsur Penguat Puing di Pulau Reunion adalah MH370

Puing yang diduga milik pesawat Boeing 777 di Pulau Reunion kemungkinan besar adalah pesawat maskapai Malaysia Airlines MH370. Setidaknya ada tiga unsur penguat bongkahan yang diduga bagian dari sayap itu adalah milik pesawat naas yang hilang tahun lalu.

Pulau Reunion terletak lebih dari 6.400 kilometer sebelah baratdaya lokasi pertama kali pesawat Boeing 777 itu hilang dari radar.

Pengamat keamanan CNN David Soucie mengatakan bahwa unsur penguat pertama adalah bentuk puing yang terlihat seperti tercabut dari pesawat karena benturan.

"Terlihat oleh saya, ini seperti benturan yang tiba-tiba," kata Soucie.

Unsur kedua adalah segel di atas puing, ciri khas Boeing 777. "Segel itu konsisten dengan apa yang saya lihat di dalam sayap triple 7," ujar Soucie.

Ketiga adalah banyaknya barnacle atau teritip yang menempel di puing, menunjukkan "aktivitas parasit" yang terjadi setelah benda berada lama di dalam air.

Namun dia masih heran dengan warna puing yang sepertinya dicat putih. Menurut dia, puing mirip bagian Boeing 777 itu seharusnya dilapisi seng kromat, bukat cat.

Tapi, dia melanjutkan, proses pewarnaan menjadi putih bisa jadi adalah proses alam yang terjadi di dalam laut.

"Jika ini adalah bagian dari triple 7, kita bisa yakin bahwa ini datang dari MH370 karena belum ada banyak kecelakaan triple 7 dan belum pernah terjadi di wilayah itu," kata analis penerbangan CNN, Mary Schiavo.

image0

Menurut pengamat penerbangan CNN lainnya Les Abend yang telah menerbangkan 777 selama 30 tahun karier pilotnya, penyelidik akan sangat mudah melihat apakah puing itu milik MH370 atau bukan karena setiap bagian pesawat memiliki serial number yang tidak hanya menunjukkan modelnya, namun pesawat tertentu.

Dengan mengetahui serial number tersebut, penyelidik bisa memastikan apakah puing itu bagian dari aileron, sayap atau flaperon pesawat, bahkan sebelum tiba di pulau tersebut.

MH370 hilang dari radar pada penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Beijing pada 8 Maret 2014. Pesawat dengan penumpang dan awak berjumlah 239 orang itu diyakini berbelok ribuan kilometer dari tujuan semula dan jatuh di Samudera Hindia.

Kasus ini tidak ayal menjadi misteri penerbangan terbesar dalam sejarah.

Pencarian yang digawangi Malaysia, Australia dan China sampai saat ini belum membuahkan hasil. Penyisiran dan pemindaian bawah laut di radius yang luas di Samudera Hindia masih terus dilakukan.

(cn) 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});