Tim Penyelamat Banjir Jepang Kesulitan Evakuasi Korban Selamat
Banyak rumah di Jepang terendam banjir pasca hujan lebat sejak Sabtu (4/7) dan mengakibatkan tim penyelamat kesulitan mengevakuasi korban selamat. (Foto: BBC)

Tim Penyelamat Banjir Jepang Kesulitan Evakuasi Korban Selamat

Kamis, 9 Jul 2020 | 14:15 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Kerja keras para petugas layanan darurat serta tentara Jepang tak berhenti hingga kini pasca banjir dan tanah longsor yang memutus jalur permukiman. Kabarnya, ribuan penduduk terjebak dan sulit mencari akses bantuan.

AFP melaporkan, Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Jepang merilis 3.000 rumah terisolasi. Sebagian besar yang terisolasi berada di kawasan Kurnamoto karena dampak yang paling parah dari wilayah lain yang juga terimbas banjir dan tanah longsor.

Hujan lebat yang masih turun di Jepang ini pun membuat para petugas kesulitan mengevakuasi korban yang selamat.

Diberitakan Detikcom, Kamis (9/7), hujan lebat ini terjadi sejak Sabtu (4/7) dan telah menimbulkan kerusakan di beberapa wilayah Jepang. Debit air di sungai-sungai di Jepang meningkat akibat hujan lebat itu.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) menyatakan bahwa 'hujan deras kemungkinan akan berlanjut hingga setidaknya 12 Juli di area yang luas'. JMA menyerukan 'kewaspadaan ekstrem' terhadap risiko tanah longsor dan banjir di dataran rendah.

JMA merilis perintah evakuasi tertinggi kedua untuk lebih dari 450 ribu orang. Namun perintah evakuasi semacam itu tidak wajib dan sebagian besar warga biasanya memilih tidak mengungsi ke sejumlah kamp pengungsian, mungkin karena takut tertular virus corona.

Pejabat di Kumamoto mengungkapkan, 55 orang dipastikan tewas di wilayah tersebut. Empat orang lainnya dikhawatirkan tewas karena keberadaannya belum diketahui. Dua kematian lainnya dikonfirmasi di Pulau Kyushu, Jepang bagian barat daya.

Lebih dari satu lusin orang dilaporkan hilang akibat bencana ini. Setelah lima hari terhambat oleh genangan banjir dan tanah longsor, tentara Jepang berhasil menyelamatkan 40 warga desa Ashikita di Kumamoto.

"Sungguh menakutkan. Rumah saya kacau, saya tidak bisa tinggal di sana lagi," ucap Kinuyo Nakamura (68) setelah berhasil dievakuasi ke kamp pengungsian.

"Kami beberapa kali mengalami bencana banjir sebelumnya. Tapi yang ini tidak bisa dibandingkan. Bukannya takut, saya lebih fokus untuk menyelamatkan diri," imbuhnya.

Di banyak area, tanah longsor menghancurkan rumah-rumah warga hingga menjadi puing. Banjir menerjang rumah-rumah di kawasan dataran rendah, menghancurkan isinya dan membuatnya tidak bisa dihuni kembali.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...