Tindakan KDRT Masih Menjadi Topik Hangat, Apa Faktornya?
Foto: via harnessmagazine.com

Tindakan KDRT Masih Menjadi Topik Hangat, Apa Faktornya?

Senin, 20 Jan 2020 | 11:16 | Alya Bunga Saharani

Winnetnews.com - KDRT adalah bentuk kekerasan di dalam rumah tangga yang korbannya bisa perempuan ataupun laki-laki, namun perempuan sering mendapatkan tindakan KDRT karena sering dianggap lebih lemah daripada laki-laki. 

Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT ada 2 bentuk. Yang pertama, kekerasan verbal yaitu kekerasan yang berbentuk ucapan yang mengucapkan kata-kata tidak pantas misal menghina, merendahkan, dan merundung sesama pasangan, dampak dari trauma bahkan bisa mengganggu kejiwaan. Adapun yang kedua yaitu kekerasan dalam bentuk non verbal yaitu kekerasan yang berbentuk fisik misal memukul, menendang, mendorong termasuk kekerasan non verbal. 

Di indonesia korban KDRT mempunyai jumlah yang cukup banyak, dari data Komnas Perempuan korban dari tindakan KDRT mencapai 71% atau 9.637 kasus, sementara dari data Pengadilan sebanyak 392.610 sebabnya perceraian yang di antaranya kasus kekerasan terhadap istri. 

Seperti kasus (SA) perempuan asal garut mendapatkan tindakan KDRT secara verbal lantaran pada santapan suaminya (NE) terdapat semut dan langsung disiram oleh air panas dari termos. Satu kasus ini mengingatkan kita bahwa tindakan KDRT bukanlah suatu hal yang bisa disepelekan dan tidak bisa dibiarkan begitu saja, sebagai perempuan kita harus bergerak dan membangun suatu keberanian untuk berbicara dan bukan hanya bungkam, dimulai dari kita harus mengetahui faktor kenapa itu kekerasan terjadi.

image0
Foto: Benedetto Cristofani

Faktor-faktor kekerasan bisa terjadi

KDRT bisa terjadi karena berbagai macam faktor, bisa karena pelaku harus menutupi kekurangan di depan keluarganya, bisa karena sebagai pelampiasan karena frustasi atau juga karena merasa dirinya sangat berkuasa sehingga dirinya melakukan tindakan KDRT. Di suatu kondisi dimana pada saat terjadi KDRT korban yang seharusnya berani untuk bicara memilih diam karena budaya indonesia menganggap “membuka aib rumah tangga itu perbuatan dosa.” Ini membuat para korban enggan mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.

image1
via Pinterest

Selain itu kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya sekedar soal fisik atau perkataan yang tidak pantas tetapi juga cara suami memperlakukan sang istri. Misalnya,mendiamkan istrinya lantaran tidak mau menuruti keinginan suaminya, di dalam rumah tangga harus saling menghargai dan saling mengerti. Hal-hal kecil yang seperti ini juga bisa berdampak pada perasaan sang istri sampai ada perasaan yang tak nyaman saat berada di rumah. Istri pun juga merasakan sakit saat perlakuan suami kurang menyenangkan. 

Di indonesia budaya patriarki masih sangat terlihat jelas dengan adanya kasus kekerasan yang masih menjadi peringkat teratas. Ini yang membuat para korban sangat takut dan juga malu, takut karena tidak bisa melawan dan malu saat para kerabatnya tahu akan masalah yang sedang dia hadapi. 

Nita (nama samaran) seorang Dosen sebuah Universitas mengatakan bahwa kakaknya adalah korban KDRT verbal selama 8 Tahun.

“Dulu kakak saya itu juga mengalami KDRT selama 8 tahun, kejadian ini sebenarnya berulang-ulang dari awal pernikahan sampai 8 tahun kemudian kakak saya baru ngomong soal ini. Kita gak bisa menduga soal hal ini walaupun laki-laki itu baik tapi karena tekanan sosial atau ada suatu kejadian yang buat dia merasa tidak berdaya akhirnya kompensasinya ya yang ada di rumah,” tuturnya.

Hal ini juga membuktikan bahwa tidak semua perempuan ingin mengutarakan kesedihannya, walaupun yang korban alami bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. 

image2
via todaychristianwoman.com

Dampak dari kekerasan ini bisa membuat korban selalu ketakutan dan tidak pernah tenang karena korban merasa pelaku tidak akan berhenti untuk melakukan tindakan KDRT walaupun korban sudah berada di tempat yang aman, korban masih mempunyai bekas luka yang terus ada dan akan sulit sekali hilang. Selain itu ada trauma yang berkepanjangan dan efeknya bisa membuat pikiran korban terpengaruh hingga bisa mengganggu aktivitas korban misal bekerja ataupun mengurus rumah. 

Terakhir dampak dari kekerasan dalam rumah tangga bisa berdampak pada fisiknya, rasa sakit yang diterima korban atas tindakan KDRT yang non verbal bisa berakibat cacat fisik seumur hidup. Dalam hal ini kita tidak bisa membiarkan itu terjadi begitu saja, kita tentu harus membuat lebih kuat menghadapi masalahnya. 

image3
Foto: ginellatesta

Memberi support adalah hal terbaik

Saat korban menceritakan tindakan KDRT yang dilakukan oleh suaminya saat itulah kita akan bisa melihat korban berani untuk bercerita akan masalahnya, hal yang harus di lakukan adalah mendengarkan cerita korban, jika si korban menceritakan kronologis tindakan KDRT sebisa mungkin anda mendengarkan dengan seksama dan memberi korban dukungan penuh agar tidak perlu merasa takut. Sebisa mungkin Anda selalu hadir untuk memberikan support kepada korban dan berusahalah untuk tidak langsung menyimpulkan cerita korban dan terpenting jangan sampai kita menyalahkan korban. (*)

 

Untuk  kamu atau orang terdekat mu yang sedang mengalami tindakan KDRT bisa menghubungi :

Yayasan pulih
Jl. Teluk Peleng 63A, Komp. TNI AL. Rawa Bambu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan Telp: (021) 78842580, Email: Pulihfoundation@gmail.com

 

--------------------
Alya Bunga Saharani adalah mahasiswi London School of Public Relations Jakarta.
*) Opini penulis dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Winnetnews.com.

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...