TNI-Polri Beda Pernyataan Soal Gesekan di Benhil
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kiri) dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan). [Foto: Kompas]

TNI-Polri Beda Pernyataan Soal Gesekan di Benhil

Kamis, 26 Sep 2019 | 16:45 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Aksi unjuk rasa yang berlangsung Rabu (25/9) menyisakan kisah pilu lantaran ada gesekan antara Polri dan TNI yang tengah berjaga-jaga di Wisma Pati Lumba-Lumba TNI AL, Jalan Gatot Subroto, Bendungan Hilir, Jakarta Selatan.

Gesekan tersebut bermula saat anggota Brimob mengejar massa aksi yang melarikan diri menuju Wisma Pati Lumba-Lumba. Namun, marinir yang berjaga tersebut melarang Brimob menangkap massa yang lari ke dalam Wisma Pati.

Hal tersebut justru memicu amarah Brimob terhadap marinir di Wisma Pati. Akibatnya, Brimob yang bersenjata lengkap terpaksa menembakkan gas air mata ke arah marinir. Hal ini pun dibenarkan Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Kabiro Penmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

 “Sudah ada komunikasi dengan para Komandan Lapangan untuk meredam kejadian itu. Ini perlu dilakukan agar tidak ada provokasi yang menimbulkan gesekan lebih besar antara TNI AL dan Brimob Polda Metro Jaya,” tuturnya seperti dilansir Bisnis, Kamis (26/9).

Menurut Dedi, Polri akan terus bersinergi dengan anggota TNI selama bertugas mengamankan aksi di lapangan agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara aparat tersebut. Dia mengaku khawatir jika Polri dan TNI tidak bersinergi, ada pihak tertentu yang akan memanfaatkan situasi tersebut untuk kepentingannya.

“Sinergi di lapangan akan terus dilakukan dan terus ditingkatkan untuk bersama-sama meredam rusuh massa,” katanya.

Sementara itu, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyampaikan jika video gesekan antara marinir dan Brimob di Wisma Pati Lumba-Lumba yang tersebar di kalangan jurnalis tidak benar adanya. Marsekal Hadi menyatakan anggotanya yang tengah berjaga-jaga tersebut justru berupaya untuk memukul mundur massa yang mencoba merangsek ke Wisma Pati Lumba-Lumba.

"Sesuai undang-undang, pengunjuk rasa, massa tak boleh masuk wilayah militer. Mess tersebut juga dijaga satu pleton pasukan. Tidak seperti yang dituduhkan Polri," kata Hadi di Kemenko Polhukam serperti dilansir Merdeka, Kamis (26/9).

Kemudian, mengenai gas air mata yang masuk wilayah wisma, Hadi tak menjelaskan secara jelas. Hadi mengatakan di Istana saja saat demo bulan Mei lalu gas air mata juga masuk,

"Saya katakan lagi, anggota TNI khususnya marinir justru membantu usir pendemo untuk keluar mundur sampai Benhil," katanya.

Hadi menegaskan TNI selalu membantu dan mendukung Polri dalam tugas keamanan serta ketertiban masyarakat.

"Tak ada permasalahan TNI dan Polri di wilayah kritis (titik rawan). Kita terus jaga pengamanan sesuai SOP," tuturnya.

Sementara itu, Menko Polhukam Wiranto mengatakan selalu ada pihak berupaya mengadu domba TNI dengan Polri. Menurutnya, apa yang terjadi di Wisma Lumba-Lumba seperti dalam video tidak benar.

"Semua satu semangat satu perangkat penegak keamanan yang harus bela negara sama-sama. Kalau ada pihak-pihak lempar hoaks adanya benturan tidak kompak itu kenyataannya tidak seperti itu. Saya jamin tidak ada itu (kejadian cekcok seperti di video yang beredar)," tandasnya.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...