TNI selidiki oknum tentara yang terlibat jaringan peredaran narkoba

TNI selidiki oknum tentara yang terlibat jaringan peredaran narkoba

Kamis, 4 Agt 2016 | 21:40 | Rike
WinNetNews.com - Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menegaskan pihak TNI telah membentuk tim guna menyelidiki keterlibatan oknum tentara yang terlibat jaringan peredaran narkoba.

Hal itu dilakukan guna menindaklanjuti keterangan koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar yang mengaku menyampaikan cerita Freddy Budiman, gembong narkoba yang sudah dieksekusi mati, akhir pekan lalu. Selain itu, TNI pun menjalankan instruksi Presiden Joko Widodo yang minta apa yang disampaikan Haris jadi bahan koreksi diri aparat."Sekarang saya sudah punya tim untuk menyelidiki keterlibatan oknum TNI dalam jaringan peredaran narkoba. Saya akan lakukan kerja sama dengan kepolisian lebih intensif lagi," terang Gatot saat ditemui di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016).

Gatot mengatakan tim tersebut sedang menelusuri identitas oknum TNI berpangkat bintang dua yang disebut Haris telah membantu Freddy menyelundupkan narkoba. Tetapi ia mengakui proses itu masih mengalami kendala sebab Haris atau Freddy tidak menyebut nama jenderal tersebut."Sekarang tim masih bekerja, tapi ya mentok. Kalau pangkat bintang dua berarti kan Pangdam. Jelas kalau Pangdam pasti dikawal voorijder. Kami akan telusuri itu," jelas Gatot. Upaya penyelidikan pun tidak hanya difokuskan pada keterangan dari Freddy Budiman. Gatot menerangkan, penelusuran tim penyelidik pun dilakukan terhadap oknum mantan tentara yang pernah terlibat jaringan pengedar.Gatot mengakui bahwa terdapat oknum anggota TNI yang pernah terlibat jaringan bisnis peredaran narkoba. Menurut Gatot, pelaku tindakan kejahatan yang melawan hukum, seperti pada kasus narkoba, akan selalu mencoba dekati aparat penegak hukum termasuk TNI.

Hal itu dilakukan supaya bisnis ilegal yang mereka jalankan tak mudah terbongkar. Pada tahun 2013, pengadilan militer menjatuhkan vonis kepada anggota Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI, Serma Supriadi dengan hukuman tujuh tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar. Supriadi terbukti terlibat loloskan impor 1.412.476 butir ekstasi yang dilakukan Fredy Budiman. Freddy mengimpor barang terlarang itu dari Pelabuhan Lianyung, Shenzhen, China pada 8 Mei 2012."Namanya tim kan apapun akan dicari. Termasuk ada sersan yang sudah kami hukum. Kami akan telusuri dari bawah," kata Gatot. "Sampai kapanpun kalau tidak ada kepastian TNI akan selalu dicap bekerjasama dengan gembong narkoba," ujarnya.

TAGS:

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...