Tolak Pengungsi, Eropa Cuci Tangan di Konflik Timur Tengah

Tolak Pengungsi, Eropa Cuci Tangan di Konflik Timur Tengah

Jumat, 18 Mar 2016 | 10:55 | Redaksi WinNetNews
winnetnews.com - Pertikaian dan perang yang terjadi di Timur Tengah tak bisa lepas dari tangan-tangan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Meski demikian, derasnya gelombang pengungsi dari negara-negara yang porak-poranda membuat Uni Eropa seakan mencuci tangan.

Bahkan, baru-baru ini para pemimpin Uni Eropa (UE) telah menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) untuk menanggulangi ratusan ribu manusia yang memasuki Eropa melalui negara Turki dan Yunani.

Keputusan KTT tersebut, seakan-akan Uni Eropa tak ingin menanggung akibat perbuatannya melibatkan militernya di Timur Tengah. Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu, pada Senin (7/3), untuk kembali menutup rute-rute Balkan yang dilalui para migran. Mereka juga mendesak Ankara untuk menerima deportasi sejumlah besar migran – karena alasan ekonomi – dari Yunani yang sudah kewalahan.

Tak hanya itu, UE juga mempertegas sikapnya dalam upaya meredakan krisis pengungsi terburuk sejak Perang Dunia II dengan melimpahkan tanggung jawab kepada Turki dan Yunani, sebagai negara anggota UE, dengan imbalan memberi bantuan.

Kedua negara itu pun menjadi gerbang migran utama ke Eropa, di mana Yunani terhubung ke rute-rute Balkan barat yang telah dilalui oleh ratusan ribu migran. Akibatnya, negara-negara di sepanjang jalur tersebut mulai menutup gerbang-gerbang mereka untuk membantu 28 negara anggota blok UE.

Dilansir dari AFP, menurut PM Turki, negerinya siap bekerjasama bahu-membahu dengan Eropa, didasari pada kesepakatan migran yang ditandatangani pada November, sekaligus memperluas tawaran keanggotaan Ankara di Uni Eropa.

Davutoglu, Minggu (6/3), mengatakan bahwa dia akan membahas upaya-upaya memulai pembangunan sekolah dan rumah sakit bagi para pengungsi dalam beberapa pekan, bersama rekan senegaranya, UE, dengan memanfaatkan dana bantuan sebanyak 3 miliar euro atau setara US$ 3,3 miliar yang dijanjikan Eropa dalam kesepakatan November.

Pemerintah Belanda, yang menjadi tuan rumah pemimpin KTT, menyampaikan blok UE tidak hanya akan mendorong Turki untuk menghentikan aliran pengungsi warga non-Suriah ke Eropa melainkan juga perang yang melanda warga Suriah sendiri.

Rute-rute Balkan dibanjiri migran setelah Kanselir Jerman Angela Merkel, pada musim panas lalu, memutuskan untuk membuka pintu bagi para pengungsi Suriah, dan Jerman sendiri telah menampung satu juta orang. Keputusan Merkel itu membuat popularitasnya melorot.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...