Tragedi Bom Sri Lanka: Keterlibatan Isis dan Adanya Motif "Balas Dendam"

Daniel
Daniel

Tragedi Bom Sri Lanka: Keterlibatan Isis dan Adanya Motif "Balas Dendam" Foto: AFP/Getty Images

Winnetnews.com - Tragedi serangkaian bom yang terjadi di Sri Lanka menarik perhatian seluruh dunia. Kejadian memilukan tersebut terjadi pada Minggu (21/4) pagi, atau bertepatan dengan hari Paskah. Sejauh ini ISIS mengklaim sebagai yang bertanggung jawab atas serangan bom tersebut.

Seperti yang dikutip dari Guardian, ISIS sudah merilis sebuah foto seorang ulama dari Sri Lanka Timur yang teridentifikasi sebagai pemimpin dari serangkaian bom pada Minggu paskah. Pria tersebut teridentifikasi sebagai Mohammed Zahran.

Mohammed Zahran alias Zahran Hashimi, diketahui sebagai pemimpin dari komunitas Muslim di Sri Lanka. Dirinya terkenal dengan pidatonya tiga tahun lalu yang dinilai sangat berapi-api. Ia dan para anggotanya diduga memiliki hubungan dengan kelompok ekstrimis lokal bernama National Thowheed Jamath (NTJ).

Zahran disebut sempat berpindah ke Maladewa beberapa tahun lalu untuk menghindari pihak kepolisian Sri Lanka. Selain itu indikasi keterlibatan ISIS semakin menguat setelah diketahui banyaknya para pemuda Sri Lanka yang hijrah ke Suriah untuk membela ISIS. Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, mengakui “Beberapa dari mereka kembali dari Suriah ke Sri Lanka”.

NTJ sendiri dinilai bertanggung jawab atas delapan ledakan bom yang terjadi di tiga gereja dan beberapa hotel. Sejauh ini NTJ atau pun Isis belum memberikan keterangan mengenai nama asli dari pelaku bom bunuh diri.

Pihak investigator menyebutkan para pelaku adalah pria lokal, termasuk di dalamnya dua kakak-beradik yang merupakan anak dari pebisnis kaya raya dari Kolombo. Dua saudara kandung tersebut merupakan pelaku dari bom yang terjadi di Shangri-La dan Cinnamon Grand Hotel. Menurut Menteri Pertahanan Sri Lanka, Ruwan Wijewardene, hasil investigasi mengindikasikan aksi bom di Minggu Paskah merupakan sebuah "balasan" atas kejadian penembakan brutal di sebuah masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Kemarin sebuah video CCTV beredar di jagat dunia maya. Dalam rekaman tersebut ditunjukkan seorang pria membawa tas ransel dan berpakaian rapih memasuki area gereja St. Sebastian yang berada di Negombo. Sesaat setelah ia memasuki gereja yang penuh dengan jemaat, bom meledak. 

Wakil Presiden Dewan Muslim Sri Lanka, Hilmy Ahmed, menyatakan sudah mengingatkan kepada pihak intelejen soal keberadaan NTJ dan pemimpinnya sekira tiga tahun lalu. Ahmed mengatakan: “Menargetkan komunitas non-Muslim adalah sesuatu yang menjadi motivasi untuk mereka. Mereka disebut melakukan pembunuhan atas nama agama.”

“Saya sendiri sudah memberikan semua dokumen (berkaitan dengan kelompok ekstrimis) tiga tahun lalu. Saya memberikan nama-nama mereka dan detil lainnya,” tambah Ahmed. NTJ sendiri ternyata terbagi ke dalam beberapa grup kecil lagi yang menurut Ahmed memiliki “Pemikiran ekstrimis”. 

Sri Lanka sendiri baru "berusia" 10 tahun pasca berakhirnya perang saudara yang memakan korban sebanyak lebih dari 70 ribu jiwa dalam periode 1983-2009. Tidak mengherankan jika kejadian brutal pemboman pada Minggu Paskah mengguncang psikologis masyarakat.

Total korban mencapai 321 jiwa pada insiden bom tersebut merupakan yang terbesar kedua sepanjang sejarah Sri Lanka. Sebelumnya aksi terorisme di Sri Lanka juga pernah terjadi pada Mei 1985, penyerbuan umat Buddhis yang memakan korban 146 jiwa. Lalu pada 1990 serangan ke sebuah masjid menelan 112 korban jiwa. Pada 2006 total ada enam aksi terorisme di Sri Lanka yang memakan korban sebanyak 371 jiwa dan masih menjadi yang terbanyak hingga kini.

 

 

Apa Reaksi Kamu?