Tudingan Rekayasa Kerusuhan Ekuador Bikin Eks Presiden Geram

Khalied Malvino
Khalied Malvino

Tudingan Rekayasa Kerusuhan Ekuador Bikin Eks Presiden Geram Aksi unjuk rasa (unras) di ibu kota Quito, Ekuador, Selasa (8/10). [Foto: Reuters]

Winnetnews.com - Bukan main, aksi nekat dilakukan Presiden Ekuador, Lenin Moreno yang memindahkan kantor pemerintahannya dari ibu kota Quito ke kota pesisir Guayaquil demi menghindari kekacauan lantaran Moreno mengumumkan terkait sejumlah kebijakan rencana penghematan oleh International Monetary Fund (IMF).

Melansir sejumlah pemberitaan media internasional yang menggambarkan situasi di Quito, Ekuador tengah dilanda aksi protes besar-besaran. Akibatnya, roda pemerintahan tidak terkendali dan mau tidak mau pusat pemerintahan untuk sementara dipindahkan.

Dikutip Detik, pengumuman Moreno ini dimaksudkan untuk menurunkan utang dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Di Quito pada hari Selasa(8/10) waktu setempat, sekelompok besar demonstran bertopeng bentrok dengan polisi, menghancurkan beberapa barikade dan mendekati istana kepresidenan di jantung pusat bersejarah kota.

Kerusuhan di Quito, Ekuador, Selasa (8/10). [Foto: Reuters]

Moreno menyalahkan pengaruh asing seperti pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro dan mantan presiden kiri, Rafael Correa atas kerusuhan yang melanda negara itu.

Namun ia tidak memberikan bukti atas tuduhannya. Ia mengatakan tidak akan menarik keputusannya untuk menghapus subsidi.

"Insiden vandalisme dan kekerasan ini menunjukkan ada beberapa niat politis terorganisir untuk mengacaukan pemerintah dan melanggar hukum konstitusional, memutus tatanan demokrasi," kata Moreno dalam pidato yang disiarkan secara nasional.

"Mereka adalah orang asing, eksternal dan dibayar," sambungnya.

Presiden Ekuador, Lenin Moreno. [Foto: El Pais]

Keputusan bahwa sebagian besar pengunjuk rasa yang meradang adalah akhir dari subsidi bahan bakar yang telah berlaku selama 40 tahun, tetapi yang diklaim oleh Moreno merugikan negara US$ 1,3 miliar per tahun.

Bantahan Correa

Menyikapi tuduhan Morenp, eks Presiden Ekuador, Rafael Correa membantah jika dirinya mengkudeta pemerintah saat ini, padahal dia sedang berada di Belgia.

Correa dituding sebagai dalang kerusuhan terburuk selama bertahun-tahun perihal upaya menggulingkan Moreno dengan bantuan dari Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

"Mereka adalah pembohong. Mereka bilang saya sangat kuat sehingga dengan iPhone dari Brussels saya bisa memimpin protes," katanya seperti dikutip SINDOnews, Rabu (9/10).

"Orang-orang tidak tahan lagi, itu kenyataan," sambungnya, merujuk pada langkah-langkah penghematan yang dibawa oleh Moreno dengan dukungan dari IMF.

Correa, yang tinggal bersama istrinya di sebuah kota kecil di selatan Brussel, dengan keras mengkritik Moreno.

Ia mengatakan bahwa pemerintah telah jatuh dan ia tidak mengharapkan Moreno, yang berada di kota pelabuhan selatan Guayaquil, kembali ke Quito untuk memerintah sementara protes berlanjut.

eks Presiden Ekuador, Rafael Correa. [Foto: El Pais]

"Mengapa mereka tidak mengumumkan pemilu dimajukan," katanya, menyerukan warga Ekuador untuk menggunakan hak untuk melawan apa yang ia sebut penindasan pemerintah.

Correa mengatakan, dia siap untuk kembali, mungkin sebagai calon wakil presiden, jika pemilihan baru diadakan.

"Jika perlu, saya akan kembali. Saya harus menjadi kandidat untuk sesuatu, misalnya, wakil presiden,” kata Correa, yang mengatakan ia mencari nafkah di Brussels sebagai konsultan untuk pemerintah Venezuela dan wawancara untuk saluran RT Rusia, yang didukung oleh negara Rusia.

"Dari sana, kita akan membutuhkan majelis konstituante," katanya, meskipun dia menolak untuk memberikan rincian tentang kebijakan pemerintah di masa depan.

"Ini bukan rencanaku, aku berkewajiban melakukan ini," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia membantah mempunyai hubungan langsung dengan Maduro di Venezuela, yang dituduhkan Prancis, Amerika Serikat, dan beberapa negara Amerika Latin sebagai diktator ketika krisis politik dan ekonomi semakin dalam di Venezuela.

Namun dia juga menuduh AS dan Uni Eropa munafik karena menjatuhkan sanksi ekonomi pada pemerintah Maduro, yang dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

“Mereka memiliki blokade kriminal (melawan Venezuela). Mereka harus mengangkatnya," tegasnya.

Correa, yang mengatakan sedang mengerjakan lima buku berbeda, membela keputusannya untuk tinggal di Belgia negara asal istrinya setelah meninggalkan kantor kepresidenan pada 2017.

Dia mengatakan bahwa memang benar bahwa setelah 26 tahun hidup sebagai pasangan di Ekuador, mereka menghabiskan waktu di Belgia.

Tetapi dia juga mengakui bahwa dia menghadapi 29 dakwaan berbeda terhadapnya, dari korupsi hingga penyalahgunaan kekuasaan di Ekuador.

Ia tidak akan kembali kecuali situasi politik berubah karena dia mengatakan tidak akan mendapatkan persidangan yang adil.

“Saya harus menyiapkan kasus hukum saya. Mereka telah meminta Interpol untuk meningkatkan red notice dan menangkap saya, saya harus menyewa seorang pengacara ... itu adalah tugas yang sangat besar. Dalam beberapa tahun terakhir, saya bekerja hanya untuk membayar pengacara," tukasnya.

Apa Reaksi Kamu?