Tweet Fahri Hamzah Dinilai Berbahaya dan Cuci Otak
Sumber : Istimewa

Tweet Fahri Hamzah Dinilai Berbahaya dan Cuci Otak

Sabtu, 5 Mei 2018 | 12:04 | Oky

Winnetnews.co - Najwa Shihab kembali hadir dalam acara Mata Najwa, Rabu (2/5/2018) malam di Trans 7.

Dalam acara tersebut, Najwa sang pemandu acara mengangkat tema 'Bara Jelang 2019' yang membahas mengenai insiden meninggalnya dua anak di monas saat ada pembagian makanan dan dugaan adanya perundungan yang terjadi di car free day (CFD) bundaran Hotel Indonesia.

Dalam segmen ketiga, Najwa secara khusus membahas tentang opini-opini media sosial yang memiliki implikasi di dunia nyata, salah satunya berimbas pada dugaan perundungan yang terjadi di CFD.

Diketahui, dalam CFD tersebut ada kubu berkaus #2019GantiPresiden yang diduga melakukan perundungan kepada seorang ibu dan anak yang mengenakan kaus #DiaSibukKerja.

Sementara diketahui bahwa tagar #2019GantiPresiden dan #DiaSibukKerja adalah gerakan yang awalnya dicetuskan di media sosial, yakni Twitter.

Menanggapi hal tersebut, Fahri menilai bertebarannya opini di dunia maya adalah sebuah era yang tak bisa dihindari. Namun peran negara dalam mengendalikan keliaran di dunia maya sangat dibutuhkan.

"Kita bersyukur hidup di masyarakat demokrasi, yang orang bisa menyampaikan pikiran-pikirannya termasuk kadang-kadang menyampaian pikiran tanpa identitas dengan akun anomin," ujar Fahri.

"Tapi juga kapasitas negara untuk mengelola perbedaan yang lininya semakin banyak dan beragam juga perlu ditingkatkan, kalau saya, kalau ada masaah yang saya tuntut itu negara, negara harus bertindak lebih profesional, kemampuan aparatur negara harus semakin canggih, sehingga masyarakat tidak menjadi korban, sebab kalau kita berantem, kita adalah korban dari negara dalam mengelola perbedaan-perbedaan yang kita punya," imbuhnya.

Najwa kemudian mencantumkan kicauan-kicauan Fahri di Twitternya. Salah satu kicauan yang ditampilkan adalah tweet tentang pembagian makanan.

Dalam kicauan tersebut Fahri menilai jika pencitraan yang dilakukan telah gagal karena warga yang datang ternyata mengantre menggunakan kupon.

"Inikah cara para pendukung incumbent? Pantesan saja gagal..dicitrakan penggerak relawan ternyata orang ngantri pakai kupon....sudah Tamat.....!!"

Selain itu, masih banyak tweet-tweet Fahri yang ditampilkan oleh Najwa. Menurut Fahri tweet-tweet yang dilontarkan olehnya merupakan bagian dari kontribusi terhadap pendewasaan masyarakat.

"Karena itulah dunia sekarang ini, kalau dulu nulis buku, sembunyi, lama, yang baca harus beli dulu, sekarang pikiran berserakan, saya dan prof Mahfud menikamti, kadang-kadang kami berbalas pantun, berbalas kata, menurut saya itu kontributif terhadap pendewasaan masyartakat," ujar Fahri.

Sependapat dengan Fahri Hamzah, Direktur Charta Politica, Yunarto Wijaya menilai jika fenomena media sosial tidak terelakkan.

Namun Yunarto Wijaya menyayangkan tweet dari Fahri Hamzah yang menuding jika acara bagi-bagi makanan dilekatkan pada kubu incumbent.

Pasalnya, sampai saat ini belum ada hasil dari proses hukum yang berjalan dan belum ada pembuktian.

"Keriuhan ini tidak masalah ketika berada dalam framing yang bisa dipertanggungjawabkan," ujar Yunarto.

"Salah satu ciri negara demokrasi yang matang dalam kampenye itu adalah penuh dengan negative campaign, saling membuka data keburukan dari lawan politik, tapi bukan black campaign, itu harus dibedakan."

"Kalau Bung Fahri menggunakan tagar #WaspadaTKA saya pikir luar biasa, kita bisa berdebat dan masuk ke wilayah perdebatan mengenai apakah kemiskinan naik atau turun, pengangguran seperti apa, TKA seperti apa dengan berbagai legalitas yang ada."

"Tapi kalo Bung Fahri membuat stigma dari sebuah peristiwa yang belum jelas, misalnya yang terjadi di Monas yang kita pasti sesalkan bersama, kematian dua anak di situ, tetapi diberikan stigma ini bagian dari pendukung incumbent, padahal proses hukum belum berjalan itu yang berbahaya, itu yang memprovokasi, dan saya berharap Bung Fahri banyak berbicara mengenai tagar-tagar yang memunculkan perdebatan bukan kemudian mencuci otak orang tanpa pernyataan yang bertanggungjawab," pungkas Yunarto.

Menjawab hal tersebut, Fahri mengatakan jika istilah incumbent tidak melulu ditujukan kepada presiden.

"Saya hati-hati memilih kata, kata incumbent itu tidak harus dinisbatkan kepada presiden, kadang-kadang kita merasa terframing, menurut saya itu normal, nikmati saja."

"Kita terima itu yang namanya sosial media, kita harus terima itu sebagai realitas, kita gunakan itu, semua orang terlibat di dalamnya, yang melanggar hukum diproses hukum, yang berwacana dilawan wacana, ide dilawan ide, tapi kemudian jangan saling menyalahkan," jawab Fahri.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...