Skip to main content

Urutan ke 2 Kasus Cyber Crime di Dunia, Indonesia Butuh Badan Cyber Nasional

Urutan ke 2 Kasus Cyber Crime di Dunia, Indonesia Butuh Badan Cyber Nasional
Urutan ke 2 Kasus Cyber Crime di Dunia, Indonesia Butuh Badan Cyber Nasional

WinNetNews.com - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Luhut Binsar Panjaitan menyebutkan bahwa setiap hari Indonesia mengalami banyak serangan cyber dan belum memiliki pertahanan cyber yang terkoordinasi untuk masalah ini.

Diperlukan sebuah badan yang menangani persoalan cyber yakni Badan Cyber Nasional (BCN) sebagai bagian dari kebijakan nasional di bidang ketahanan informasi.

Meskipun demikian berbagai polemik pun masih muncul terkait butuh atau tidaknya badan baru tersebut (Badan Cyber Nasional).

Ketua Desk Cyberspace Nasional Kemenkopolhukam, Agus Barnas juga mengatakan meski pembahasan BCN telah dilakukan pada 6 Januari 2015 di Istana Kepresidenan antara Presiden Joko Widodo dan Sekretaris Kabinet, Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijatno (ketika itu masih menjabat), Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, tetapi hingga saat ini belum terlihat titik terang mengenai pembentukan badan tersebut.

Padahal berdasarkan data yang tercatat, Indonesia telah menempati peringkat ke-2 sebagai sumber serangan cyber dunia dan peringkat ke-1 sebagaiu negara dengan risiko keamanan akibat serangan cyber yang terbesar.

Baca juga: 54,5 Persen Serangan Cyber di Indonesia terjadi pada Situs E-Commerce

Parahnya peningkatan angka kejahatan cyber yang mencapai enam kali lipat sejak tahun 2014 sampai dengan 2015 bukan berasal luar negeri, melainkan dilakukan di dalam negeri yang menyasar target dalam negeri pula.

Bank Indonesia bahkan memantau terindikasinya peningkatan aktivitas kejahatan berupa penyalahgunaan jaringan sebesar 66,7 persen pada 2015 dibandingkan 2014.

Agus menjelaskan, penyalahgunaan jaringan untuk kejahatan pada transaksi keuangan sebagian besar berupa pencurian data keuangan dan data "login password".

"Terdapat pula kasus berupa manipulasi data keuangan terutama yang terkait dengan transaksi elektronik dan penggunaan uang elektronik," katanya.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top