Utamakan Keselamatan, Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi?

Oky
Oky

Utamakan Keselamatan, Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi? sumber foto : istimewa

Winnetnews.com - Dunia penerbangan kembali berkabung setelah salah satu pesawat maskapai swasta Lion Air JT - 610 rute Jakarta -Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat. Pesawat Lion Air JT-610  hilang kontak sejak lepas landas dari bandara Internasional Soekarno Hatta pada pukul 06.33 WIB ,Senin (29/10/18).

Pesawat yang membawa 189 Orang , terdiri atas 178 penumpang dewasa , 1 penumpang anak-anak dan 2 bayi , 1 pilot ,1 ko pilot dan 6 awak kabin , dari jatuhnya  pesawat pada tanggal 29 Oktober 2018.

Basarnas telah melakukan pencarian korban maupun badan pesawat dan kotak hitam atau Black Box. Basarnas juga telah menyerahkan semua barang korban Lion Air JT-610 ke DVI Polri , dan sampai hari ke-8 pencarian korban team DVI telah berhasil mengidentifikasi 71 Jenazah korban jatuh nya pesawat Lion Air JT-610. Adapun salah satu korban yang ter identifikasi yaitu jenazah : “ Paul Ferdinand Ayorbaba ” yang ter identifikasi  pada

Tanggal 06 November 2018. Alm. Paul Ferdinand Ayorbaba meninggalkan 1 Istri ,3 Anak dan keluarga besar.

“ Menurut ibu ningsih setelah adanya kejadian ini pendapat ibu terhadap maskapai Lion Air bagaimana? ” Tanya salah satu wartawan.

“ Sangat buruk,dan harus ditutup,sudah tidak boleh beroperasi lagi ” Jawab Istri korban.

Menurut Istri korban saat di wawancarai Lion Air sudah sering terjadi kecelakaan pesawat , yang ini yang paling fatal dan yang paling banyak penumpang jadi korban.

“ Awalnya ibu tau ada kecelakaan ini dan didalamnya ada suami ibu dari mana? ” Tanya wartawan.

“ Dari Youtube, Live streaming ” Jawab ibu Ningsih.

Ketika di wawancarai bagaimana progres pihak Lion Air terhadap kasus kecelakaan pesawat Lion Air JT-610, ibu ningsih menjelaskan bahwa progres sampai saat ini lumayan ada kemajuan di banding kemarin-kemarin.

Ada firasat yang muncul sebelum kejadian ini terjadi bu? ” Tanya wartawan kepada Ibu ningsih (Istri korban).

 

“ Saya gak tau ya itu firasat atau bukan , sehari sebelum berangkat saya sudah larang berangkat sampai saya ulang berkali-kali tetapi dia tetap berangkat, dan kirim video ke saya gak biasa-biasa nya” Jawab ibu Ningsih.

Tentu nya harapan keluarga semua korban terhadap pihak Lion Air yaitu semoga semua korban cepat di temukan dan ter identifikasi agar keluarga dapat menguburkan nya dan meminta Lion Air di tutup.

“Kalo kita menanggapi dari sisi penumpang tentu nya kita bertanggung jawab dan kita mulai ada pemberian uang saku , pemberian uang duka dan pergantian bagasi.” Jelas pihak Lion Air.

Pihak Lion Air pun menjelaskan bahwa progres dalam melakukan pencarian korban-korban ada banyak sekali kemajuan , dan ada 150 orang yang turut langsung ikut dalam melakukan pencarian , dari semua divisi.

Dan pihak Lion Air hanya memberi kabar ke keluarga saja untuk jenazah yang sudah ter identifikasi.

“ kita dari team Polri ,Lion Air dan juga Pemerintah akan terus melakukan pencarian.” Pihak Lion Air menjelaskan.

Pihak Lion Air juga menjelaskan bahwa waktu pencarian korban dapat sampai 1 minggu, 2 minggu bahkan sampai sebulan.

“ Peran pemerintah cukup besar juga dalam kasus ini.” Jelas pihak Lion Air.

Dan sampai saat ini belum juga di ketahui apa penyebab akurat kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 yang menewaskan 189 penumpang rute Jakarta-Pangkal Pinang.

Pengamat penerbangan, Alvin Lie mengungkapkan ada beberapa hal yang perlu di cermati dari kasus hilang nya kontak pesawat Lion Air JT-610, untuk memastikan penyebab kejadian tersebut

Perlu melihat sejarah penerbangan dan memastikan kesehatan pesawat.

“ Dari kasus ini yang di cermati pertama saya rasa kita perlu membuka Log Book ( catatan riwayat pesawat ).” Kata Alvin.

Pengamat penerbangan juga pemerintah menjelaskan bahwa jangan main Handphone kepada penumpang saat pesawat terbang ( Take off ). Lembaga tersebut ialah International Air Transport Association atau IATA , yang menyumbang sekitar 84% lalu lintas transportasi udara dunia.

Para peserta di IATA menggelar konferensi untuk membuat aturan baru dalam penggunaan perangkat elektronik di pesawat agar menjaga keamanan di dalam kabin pesawat.  

Hasil dari konferensi yang digelar IATA setidak nya membuahkan lima butir ketetapan baru dari standar penggunaan perangkat elektronik portabel di pesawat seperti tablet , laptop , ponsel maupun perangkat elektronik lain nya. Petugas di air controller bertugas mengatur lalu lintas pesawat , sehingga mereka lah yang selalu memantau pergerakan setiap pesawat.

Komunikasi antara pilot dan petugas di air controller menggunakan gelombang radio. Penggunaan Hp dapat menganggu komunikasi yang dilakukan oleh pilot dan petugas air controller.

Oleh karena itu , penggunaan Hp sangat di batasi agar komunikasi antara pilot dan petugas air controller tidak terganggu , karena gangguan komunikasi dapat berakibat fatal , karena beberapa kecelakaan pesawat yang sudah terjadi ternyata di lansir di akibatkan oleh penggunaan Hp yang dilakukan oleh penumpang di dalam pesawat.

Penumpang hanya diwajibkan memasang modus pesawat selama berada di fase kritis yakni saat lepas landas maupun proses pendaratan.

Akan tetapi , sebagaian besar maskapai memaksa para penumpang nya untuk mematikan semua perangkat elektronik nya ketika sudah memasuki kabin pesawat. IATA ingin mengubah kebijakan tersebut.

Asosiasi itu berencana memungkinkan perangkat elektronika penumpang bisa tetap menyala dalam posisi lepas landas ataupun mendarat. Hal itu diambil berdasarkan tak ada nya insiden yang terjadi selama penggunaan mode pesawat di perangkat mobile yang di bawa selama penerbangan.

Negara dan maskapai yang menerapkan aturan dengan standar keamanan tinggi , mematikan handphone adalah suatu keharusan. Tetapi di Indonesia hal itu tidak di atur sehingga penumpang masih bisa mendengar musik dengan Handphone atau ber – Selfie ria di pesawat. Pilot harus ber komunikasi dengan ATC ( Air Traffic Controller) , mereka harus memastikan beberapa hal , salah satu nya kapan harus lepas landas , Jika kamu masih asyik main ponsel di pesawat pancaran gelombang radio yang di hasilkan ponsel akan mengganggu  komunikasi mereka bahkan dapat menyebabkan miss komunikasi

Begitu para penumpang yang kerap keliling dunia duduk di kursi akan segera terdengar permintaan dari awak pesawat yang sudah amat biasa : "Bapak dan ibu , mohon ubah telepon genggam Anda ke mode penerbangan.

Namun bagaimana jika seorang penumpang membiarkan telepon genggamnya tanpa mode penerbangan ? Kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi ?

Karena telepon genggam menyebarkan gelombang radio , ada kemungkinan mengganggu komunikasi pesawat , seperti sistem pencegah kecelakaan dan radar. Bahkan ada kemungkinan mengganggu perangkat pendengar pilot. Itulah sebab nya ada mode penerbangan , yaitu untuk mematikan teknologi penyebar gelombang radio.

Namun kenyataan nya banyak penumpang yang secara tidak sengaja membiarkan telepon genggamm nya hidup sepanjang penerbangan dan tidak ada dampak buruk nya. Dalam sebuah survei tahun 2013 , sekitar empat dari 10 penumpang pesawat di AS mengaku mereka tidak selalu mematikan peralatan elektronik mereka.

NASA sudah menyusun daftar insiden terkait PED yang pernah terjadi di dalam pesawat. Dalam daftar yang diperbarui bulan Januari itu , sedikitnya ada lima insiden yang melibatkan penyebaran sinyal dari telepon genggam.

Salah satu kasus tertulis seperti ini : "Kapten melaporkan kemungkinan gangguan dari telepon genggam di dalam kabin yang bisa menjadi penyebab ketidak wajaran yang di alami sepanjang penerbangan."

Namun tidak ada insiden pasti yang berbahaya tentang telepon genggam yang tidak di setel mode penerbangan nya yang menyebabkan pesawat jatuh atau terjadi kecelakaan. Bagaimapun sejalan dengan ke khawatiran pihak berwenang , lebih baik mentaati peraturan demi kehati-hatian.

Bisakah semua peraturan dan pemeriksaan keamanan menjadi lebih longgar ? Mungkin dan pernah terjadi sebelum nya. Misal nya , sebelum tahun 2013, telepon genggam dan peralatan elektronik lain nya harus mati total dalam sejumlah penerbangan , jadi bukan sekedar disetel agar tidak menyebarkan gelombang radio. Otorita Penerbangan AS kemudian mencabut persyaratan itu , yang juga dilakukan badan-badan penerbangan di negara lain.

Singkirkan dulu masalah keamanan maupun sinyal , dan masalah nyata yang di hadapi Samsung adalah peralatan elektronik seperti telepon genggam , yang mendapat energi dari baterai litium-ion , harus aman secara fisik jika di gunakan konsumen.

Baterai-baterai yang mudah panas dan meledak , merupakan hal yang perlu di pikirkan oleh pabrik elektronik sebelum menciptakan produk yang akan di gunakan para penumpang di bandara. Peralatan elektronik yang 'rusak' berada di dalam pesawat menjadi alasan untuk khawatir.

Dan untuk semua ancaman lain yang terkait dengan telepon genggam -yang membuat Anda harus melewati pemeriksaan keamanan yang rumit atau membuat Anda tidak bisa mengirim pesan SMS selama beberapa jam di udara- maka ketahuilah: lebih baik aman daripada menyesal ,

Dan hal yang tidak di inginkan , selain itu pada saat kita sudah terbang menggunkan pesawat elektronik untuk menentukan arah terbang ( Alat navigasi ) yang sangat sensitif dengan gelombang elektronik. Kesalahan yang terlihat begitu kecil bukan hanya menyebabkan nyawa sendiri , tapi juga seluruh nyawa di dalam pesawat. Jadi mulai sekarang selalu ingat

Untuk mematikan ponsel ketika berada di dalam pesawat ,Ya! Jika ada orang di sebelah mu yang asyik main handphone ketika pesawat akan take off , ingatkan secara baik-baik. Dan ketika pesawat akan mendarat pun kamu belum boleh menyalakan ponsel kamu karena masih bisa mengganggu operasi pesawat.

Waktu ideal untuk menyalakan ponsel adalah ketika kamu benar-benar sudah keluar dari pesawat , kamu bisa menyalakan ponsel saat menunggu bagasi.

  1. Pesawat Slovenia Air yang sedang menuju Saravejo terpaksa harus melakukan pendaratan darurat di karenakan sistem alarm yang ada di kokpit terus berbunyi.
    Ternyata penyebab nya adalah Hp yang terdapat di dalam koper di bagasi belum di non-aktifkan sehingga mengakibatkan gangguan sistem navigasi.
  2. Pesawat Crossair LX498 lepas landas dari bandara di Swiss.
    Sesaat setelah lepas landas, pesawat tersebut terjatuh dan memakan 10 korban tewas. Setelah di selidiki , ternyata terdapat gangguan sinyal Hp yang menganggu sistem kemudi pesawat.
  3. Penggunaan Hp di dalam pesawat di curigai sebagai sebab terjadi nya kecelakaan pesawat di Selandia Baru pada tahun 2003.
    Pada kecelakaan tersebut , terdapat 8 penumpang tewas.
  4. Boeing 747 Qantas yang merupakan sebuah maskapai penerbangan dari Australia secara tiba-tiba menjadi miring ke satu sisi dan kembali mendaki setinggi 700 kaki ketika hampir mendarat di bandara London.
    Ternyata penyebab nya adalah ada 3 penumpang yang belum me non-aktifkan komputer , pemutar CD dan perangkat elektronik masing-masing.

Masih banyak lagi kecelakaan pesawat yang di sebabkan oleh penggunaan Hp dan perangkat elektronik di dalam pesawat.

 

Ditulis oleh Aulia Septi Riansyah Gumay

Mahasiswi London School of Public Relations

Apa Reaksi Kamu?