Viral Penurunan Paksa Anak Punk oleh Polsuska, PT KAI Angkat Bicara
Foto: Facebook.com/Masberto Kingdom

Viral Penurunan Paksa Anak Punk oleh Polsuska, PT KAI Angkat Bicara

Jumat, 27 Des 2019 | 10:56 | Nurul Faradila

Winnetnews.com - Belakangan ini, media sosial digegerkan oleh sebuah video seorang polisi khusus kereta api (Polsuska) yang menurunkan paksa penumpang kereta api yang berdandan ala anak punk. Video tersebut pertama kali dibagikan oleh akun Facebook bernama Masberto Kingdom, pada Selasa (24/12) lalu.

Video itu kemudian menjadi heboh lantaran para pengguna media sosial mengira kalau Polsuka yang sedang bersitegang dengan salah satu anak punk itu, mengeluarkan senjata api. Berdasarkan keterangan unggahan tersebut, kejadian ini terjadi di gerbong Kereta Api Lokal tujuan Rangkasbitung – Merak.

Viralnya video ini membuat pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta angkat bicara. Mereka membantah kalau saat peristiwa itu terjadi penodongan senjata api kepada anak punk.

“Menanggapi video yang beredar luas di sosial media, kami klarifikasi bahwa tidak ada penodongan pistol ke penumpang KA yang dilakukan oleh petugas Polsuska,” kata Humas KAI Daop 1, Eva Chaerunnisa, seperti dikutip dari Liputan6.com.

Pihak KAI kemudian menjelaskan kalau benda yang terlihat dalam video bukanlah senjata api, melainkan senjata kejut yang memang biasa dipegang oleh Polsuska.

 

“Polsuska mengeluarkan senjata kejut, bukan pistol, untuk pengamanan diri, sebab jumlah rombongan tersebut cukup banyak,” jelasnya.

Eva juga menjelaskan kalau peristiwa penurunan ini terjadi pada 8 November 2019 lalu. Saat itu ada sekitar 25 orang yang naik kereta di Stasiun Merak dengan tujuan Rangkasbitung. Kemudian, ada penumpang lainnya yang mengadukan ketidaknyaman itu kepada petugas kereta api.

“Kejadian di KA Lokal Rangkasbitung – Merak nomor 472. Berawal dari pengaduan beberapa penumpang yang merasa tidak nyaman dengan perilaku sekelompok penumpang yang berjumlah sekitar 25 orang. Dalam aduannya, mereka dianggap menganggu ketertiban dan berjalan mondar-mandir di kereta,” terangnya.

Lantaran adanya aduan tersebut, petugas Polsuska pun menghampiri tempat duduk yang dimaksud. Eva mengatakan kalau awalnya petugas itu menegur dengan cara baik-baik, namun petugas malah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Hingga akhirnya para penumpang anak punk tersebut dipaksa turun di Stasiun Karangantu, Kota Serang, Banten.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...