Wah...Parah...Indonesia Ikut Terkena Serangan Teroris Siber
ilustrasi

Wah...Parah...Indonesia Ikut Terkena Serangan Teroris Siber

Sabtu, 13 Mei 2017 | 15:35 | Rusmanto

WinNetNews.com - Ancaman serangan siber di 99 negara yang diumbar oleh para peretas ternyata tidak main-main. Indonesia pun ternyata sudah ikut jadi korban target serangan.

Kabar ini sudah beredar di kalangan para pegiat cyber security di Indonesia. Mereka pun mengakui, sejumlah Rumah Sakit sudah ada yang kena serangan. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pun ikut mengkonfirmasi.

"Ini bukan (kerjaan) hacker lagi, ini sudah katagori teroris. Hacker punya etika, tidak pernah menyerang Rumah Sakit," ujar Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel A. Pangerapan, Sabtu (13/5/2017).

Kominfo bersama sejumlah instansi terkait pun langsung melakukan koordinasi untuk menanggulangi serangan teroris siber tersebut. "Sebentar, tim kami sedang bekerja," ujar Semmy.

Praktisi keamanan internet dari Vaksincom , Alfons Tanujaya, ternyata juga sudah mengetahui kabar disanderanya data-data sejumlah Rumah Sakit di Indonesia dengan teknik ransomware .

"Parah! RS Dharmais kena, RS Kanker Harapan Kita juga kena. Kayaknya, banyak Rumah Sakit yang kena. Itu yang kena masih untuk layani pasien lagi," sesal Alfons saat dihubungi terpisah.

Kabar tentang serangan ransomware oleh para teroris siber ini juga ikut dikonfirmasi oleh Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure/Coordination Center (ID-SIRTII).

Sementara, seperti dilansir AFP dan BBC, serangan siber global ini terjadi pada Jumat (12/5/2017) waktu setempat. Selain Inggris, negara-negara yang terdampak antara lain Amerika Serikat (AS), China, Rusia, Spanyol, Italia, Taiwan dan sebagainya.

Serangan siber ini menggunakan teknik bernama ransomware, jenis virus malware ( malicious software ) yang berkembang paling cepat. Data dalam komputer di ribuan lokasi yang terkena ransomware, terkunci oleh program yang meminta pemilik untuk membayar USD 300 dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin , jika 'kunci' itu ingin dibuka.

Secara terpisah, peneliti dari perusahaan keamanan siber Karpersky, Costin Raiu, menyebut ada 45 ribu serangan siber di 74 negara. Raiu menyebut, malware itu mereplika dirinya sendiri dan menyebar dengan cepat.

Pada April lalu, kelompok peretas bernama The Shadow Brokers mengklaim telah mencuri 'tools' NSA itu dan merilisnya secara online. 'Tools' itu dibuat tersedia secara bebas di internet dengan password yang dipublikasi oleh kelompok peretas itu. Namun pelaku di balik serangan siber global ini belum diketahui pasti.

Perusahaan teknologi multinasional yang berbasis di AS, Microsoft, telah merilis antisipasi kerawanan untuk 'tools' itu pada Maret, namun kebanyakan sistem mungkin belum ter-update. Jaringan komputer untuk rumah sakit di Inggris terkena serangan siber ini.

Demikian halnya dengan Kementerian Dalam Negeri Rusia, jaringan komputer perusahaan telekomunikasi Spanyol 'Telefonica' dan perusahaan ekspedisi ternama AS FedEx , serta banyak lainnya.

Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris dan Badan Kriminal Nasional negara itu tengah menganalisis insiden ini. Layanan ambulans di fasilitas Dinas Kesehatan Nasional (NHS) Inggris terdampak parah akibat serangan siber ini.

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Rusia menyebut beberapa komputernya terkena 'serangan virus' dan kini tengah berupaya untuk menghancurkannya. Sedangkan pihak FedEx di AS menyadari adanya serangan siber ini dan menyatakan sedang mengambil langkah pemulihan secepat mungkin.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...