Warga China di AS Bersorak Saat Kerusuhan Pasca George Floyd Tewas di 'Lutut' Polisi Minneapolis
Kerusuhan pasca tewasnya pria kulit hitam, George Floyd di 'lutut) polisi Minneapolis. (Foto: Washington Ti3ďď

Warga China di AS Bersorak Saat Kerusuhan Pasca George Floyd Tewas di 'Lutut' Polisi Minneapolis

Selasa, 2 Jun 2020 | 12:53 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Para warga China bersorak atas kerusuhan yang melanda berbagai wilayah Amerika Serikat (AS) setelah pembunuhan pria kulit hitam George Floyd oleh polisi kulit putih di Minneapolis.

Media pemerintah di Beijing melaporkan kerusuhan di beberapa kota di AS adalah balasan atas dukungan administrasi Trump terhadap para pengunjuk rasa di Hong Kong.

"Protes dan kekacauan telah menyebar dari negara bagian Minnesota di AS ke seluruh negara itu, dan netizen China bersorak," tulis Hu Xijin dalam editorial Global Times yang dikelola pemerintah China pada hari Senin (1/6).

"Washington mendukung para perusuh di Hong Kong, sementara sekarang ditampar di wajah oleh protes keras di seluruh AS," lanjut Hu.

Dikutip dari SINDOnews.com, Senin (1/6), para pengunjuk rasa telah berkumpul di seluruh negeri Amerika selama beberapa hari sebagai reaksi atas kematian Floyd pada 25 Mei 2020. Pria kulit hitam itu meninggal setelah lehernya dicekik polisi dengan lutut di tanah.

Floyd awalnya ditangkap empat petugas polisi atas tuduhan membeli rokok di sebuah toko dengan uang kertas palsu. Dalam penengkapan itulah, adegan mencekik leher dengan lutut oleh polisi terjadi dan memicu kemarahan publik Amerika.

Petugas polisi yang mencekik Floyd, Derek Chauvin, telah dipecat bersama tiga petugas polisi lainnya. Chauvin didakwa melakukan pembunuhan.

Protes di beberapa kota di Amerika untuk menuntut akuntabilitas polisi awalnya berlangsung damai. Namun, demo itu berubah menjadi kerusuhan dan penjarahan yang meluas. Ribuan tentara dari Garda Nasional telah dikerahkan ke berbagai wilayah, termasuk di sekitar Gedung Putih untuk meredam demo rusuh.

Hu, pemimpin redaksi untuk Global Times, mencatat bahwa hampir tidak ada pengguna internet China yang bersimpati dengan petugas kepolisian AS. Dia menambahkan bahwa pemerintah China dan Kongres Rakyat Nasional "melakukan pengekangan" dengan tidak secara terbuka mengutuk penembakan gas air mata dan penangkapan terhadap para demonstran.

Dia juga menuduh para pejabat AS menerapkan standar ganda, yakni mengecam protes rusuh di dalam negeri. Namun, mereka mendukung demo rusuh di Hong Kong, yang semakin mendorong Beijing untuk melakukan kontrol atas wilayah semi-otonomi tersebut.

"Beberapa orang, termasuk intelektual publik berpendapat bahwa protes di AS adalah 'tindakan jahat, menghancurkan, dan menjarah,' sementara apa yang terjadi di Hong Kong adalah 'pemberontakan yang adil'," tulis Hu.

"Seseorang seharusnya tidak memaksakan pada orang lain apa yang dia sendiri tidak inginkan," lanjut dia. "Ketika Hong Kong dilanda kekacauan dan Washington menunjuk ke Beijing, Washington seharusnya membayangkan betapa tidak menyenangkannya orang-orang China."

Menteri Luar Negeri AS, Michael Richard Pompeo mengumumkan pekan lalu bahwa Hong Kong tidak lagi otonom dari China. Pengumuman muncul beberapa hari setelah China memberlakukan undang-undang keamanan nasional baru di wilayah tersebut.

Dalam editorialnya, Hu memperingatkan AS agar tidak secara vokal mendukung "kerusuhan" di tempat lain ketika AS dapat menemukan dirinya dalam kesulitan yang sama.

"Saya ingin menekankan bahwa AS memiliki modal yang semakin sedikit untuk memainkan permainan 'standar ganda' sekarang," katanya. "Itu tidak dapat mengacaukan China. Ini akan menjadi pilihan yang bijaksana untuknya mempertimbangkan kembali bagaimana melindungi dirinya sendiri terlebih dahulu.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...