Warganya Kalang Kabut Dampak Otoritas Israel Lamban Tangani Covid-19
Tim medis Covid-19 Israel tengah sibuk tangani kasus virus corona. (Foto: Nusantara Palestina Center)

Warganya Kalang Kabut Dampak Otoritas Israel Lamban Tangani Covid-19

Jumat, 10 Jul 2020 | 17:59 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Wabah pandemi virus corona hingga kini belum ada yang mampu memberantasnya. Padahal virus ini sudah lama bercokol di ratusan negara selama setengah tahun, salah satunya Israel yang tengah hangat menjadi perbincangan publik internasional lantaran niatnya mencaplok Tepi Barat dan Lembah Jordan.

Rupanya warga Yahudi di Israel gusar dengan sikap dan tindakan pemerintahan Israel yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang terkesan lamban. Pasalnya, sistem perekonomian Israel telah hancur karena banyak yang menilai otoritas negeri zionis ini tidak bergerak cepat dalam mengatasi virus yang sudah menginfeksi jutaan warga dunia ini.

Tak pelak warga Israel pun menuai aksi protes anti-Netanyahu di seluruh penjuru Israel. Mengutip Republika, Jumat (10/7), salah satu warga Israel yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi menyatakan kemarahannya dalam sebuah wawancara langsung di televisi. Dia memperingatkan Netanyahu bahwa Israel "akan terbakar" jika pemerintah tidak segera memberikan bantuan.

Awalnya, Netanyahu mendapatkan pujian atas keberhasilan manajemen Israel dalam menghadapi krisis kesehatan. Namun, saat ini para ahli kesehatan memperingatkan bahwa Israel hampir tidak mampu mengatasi krisis tersebut karena pemerintah terlalu jumawa.

Pada awal pandemi, Netanyahu bergerak cepat untuk menutup perbatasan negara dan memberlakukan langkah-langkah tegas untuk mengendalikan virus. Pada Mei, Israel menjadi salah satu otoritas pertama di dunia yang membuka kembali ekonominya. Netanyahu menyatakan di televisi bahwa negara-negara lain melihat ke Israel sebagai model dalam penanganan virus corona.

Namun, kini Israel menghadapi lonjakan drastis kasus virus corona yang dikonfirmasi. Otoritas Israel kembali memberlakukan pembatasan sosial secara ketat. Para kritikus menyatakan, respons pemerintah dalam menghadapi lonjakan kasus sangat lambat.

"Manajemen krisis corona adalah kegagalan nasional yang memalukan, itu berbahaya dan tanpa preseden. Orang-orang marah, dan mereka berhak untuk marah," ujar pemimpin oposisi, Yair Lapid.

Penularan virus corona di Israel berlangusng sangat cepat. Pihak berwenang melaporkan rekor kasus baru sebanyak lebih dari 1.000 per hari. Para ahli menuding otoritas Israel lengah dalam mengatasi pandemi. 

Seorang profesor kesehatan masyarakat dan anggota tim manajemen epidemi nasional, Ran Balicer mengatakan, Israel membuka negara terlalu cepat dan menginjak rem terlalu lambat.

Tingkat pengangguran di Israel melonjak lebih dari 25 persen akibat pandemi virus corona. Selain itu, usaha kecil, industri makanan, hiburan, dan pariwisata menyatakan bahwa pembatasan sosial secara besar-besaran akan menjadi sebuah pukulan yang mematikan.

Sebuah jajak pendapat oleh Midgam Research & Consulting di Channel 12 TV menemukan sebanyak 46 responden mendukung kinerja pemerintahan Netanyahu. Jumlah tersebut menurun dari jajak pendapat pada Mei lalu, yakni sebesar 74 persen.

Hampir setiap hari warga Israel yang telah berputus asa karena terkena dampak pandemi berbaris di dapur umum untuk mendapatkan makanan secara gratis. Selain itu, aksi protes hampir setiap hari dilakukan oleh orang-orang yang kehilangan pekerjaan mereka.

Seorang pejabat tinggi Kementerian Kesehatan Israel pekan ini mengundurkan diri karena terjadi perbedaan pandangan terkait penanganan lonjakan kasus virus corona. Dalam surat pengunduran dirinya, Kepala Departemen Pelayanan Kesehatan Publik, Sigal Sadetsky menyatakan bahwa penanganan pandemi telah kehilangan arah.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...