WHO Klaim Nihil Vaksin Covid-19
Direktur Jenderal (Dirjen) WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Foto: Los Angeles Times)

WHO Klaim Nihil Vaksin Covid-19

Rabu, 5 Agt 2020 | 11:10 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menegaskan kemungkinan tak ada vaksin manjur atasi pandemi virus corona yang kini sudah menelan belasan juta korban jiwa di seluruh dunia per Senin (3/8).

Padahal, sejumlah negara tengah berkompetisi memproduksi vaksin Covid-19 yang dapat memutus siklus penyebaran dan membuka penguncian wilayah di ratusan negara yang terdampak virus corona. Salah satu kota terbesar Australia pun telah mengetatkan jam malam.

Menyadur Tribunnews, Rabu (5/8), Direktur Jenderal (Dirjen) WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mendesak pemerintah dan warga yang terdampak Covid-19 ini harus lebih fokus pada testing, pelacakan kontak, physical distancing, serta penggunaan masker.

"Kita semua berharap memiliki sejumlah vaksin ampuh yang bisa membantu mencegah orang tertular. Namun, tidak ada obat yang manjur saat ini  dan mungkin tidak akan pernah ada. Jadi, yang bisa dilakukan saat ini untuk menghentikan wabah adalah menerapkan dasar-dasar kesehatan masyarakat dan pengendalian penyakit," ujar Tedros.

Meskipun sudah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama berbulan-bulan sehingga melumpuhkan ekonomi, pandemi virus corona terus meluas. Kini tercatat hampir 700.000 kematian di seluruh dunia.

Di Amerika, penasihat Gedung Putih memperingatkan, virus itu "menyebar sangat luas." Di negara-negara yang sebelumnya berhasil mengendalikan, wabah kembali merebak, misalnya Australia.

PSBB baru kembali diterapkan di negara bagian Victoria yang terimbas keras, Senin (3/8). Jam malam juga diberlakukan di Melbourne, ibu kota negara bagian itu, selama enam minggu ke depan. Semua bisnis yang dinilai non-esensial ditutup, dan pesta pernikahan dilarang.

Di Filipina, pemerintah juga menerapkan kembali penutupan wilayah atau lockdown setelah jumlah penularan melampaui 100 ribu. Lebih dari 27 juta orang - termasuk di ibukota negara itu, Manila, kembali harus diam di rumah selama dua minggu mulai Selasa.

Iran, negara yang paling terimbas pandemi di Timur Tengah, melaporkan jumlah penularan tertinggi dalam satu hari dalam hampir sebulan. Pemerintah memperingatkan, sebagian besar provinsi di sana menghadapi perebakan kembali virus corona.

Tetapi, Amerika masih menjadi negara yang paling terimbas pandemi. Sejauh ini, dilaporkan 4,6 juta kasus dan hampir 155.000 kematian di Amerika. Deborah Birx, Kepala Gugus Tugas Covid-19 Gedung Putih, memperingatkan negara itu telah memasuki "fase baru".

"Apa yang kita saksikan sekarang berbeda dari apa yang terjadi pada Maret dan April," kata Birx kepada stasiun televisi CNN. Ia menambahkan, virus ini "menyebar sangat luas."

Kepala teknis WHO untuk tanggap COVID-19 Maria Van Kerkhove mengatakan kajian baru-baru ini memperkirakan tingkat kematian akibat virus corona adalah 0,6 persen.

"Mungkin angka itu terdengar tidak besar, tetapi cukup tinggi jika memperhitungkan virus yang mudah menular, yang bisa menular dengan cepat," katanya.

Pandemi mendorong banyak pihak bergegas membuat vaksin. Rusia hari Senin menyatakan akan meluncurkan vaksin secara massal pada September dan memproduksi "jutaan" dosis vaksin setiap bulan sebelum tahun depan.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...