WIdiww, Tolak Full Day School, 10 Ribu Warga Siap Turun ke Jalan
Foto: Istimewa

WIdiww, Tolak Full Day School, 10 Ribu Warga Siap Turun ke Jalan

Rabu, 19 Jul 2017 | 14:46 | Gunawan Wibisono

WinNetNews.com - Wacana pemberlakuan full day school oleh pemerintah cukup mendapat tentangan dari berbagai elemen masyarakat. Oleh karena itu, rencananya sekitar10 ribu orang akan melakukan aksi turun ke jalan untuk menolak Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Lima Hari Sekolah tersebut. Mereka menilai, pemberlakuan full day school lebih banyak mengandung madlarat (bahaya) daripada mashlahatnya (manfaatnya).

Massa akan bergerak di bawah koordinasi Koalisi Masyarakat Peduli Pendidikan (KMPP) pada Jumat 21 Juli 2017 pukul 13.00 WIB. Aksi akan diawali dengan salat Jumat berjamaah di Masjid Baiturrahman kawasan Simpanglima Semarang dan berakhir di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan Nomor 9 Semarang.

“Ada 15 elemen masyarakat yang ikut bergabung dalam aksi nanti. Permen tentang lima hari sekolah ini jelas membawa dampak buruk bagi masyarakat, tapi pemerintah tetap memaksa untuk diberlakukan. Karena itu, ketika kata-kata tak lagi bermakna, maka aksi adalah solusi,” kata perwakilan KMPP, Hudallah Ridwan, Rabu (19/7/17).

Salah satu pengajar di pondok pesantren itu menegaskan, aksi massa nanti akan berlangsung damai yang berisi seruan pemerintah segera mencabut Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017. Meski demikian, pihaknya mengancam akan mengerahkan massa lebih besar jika tuntutan itu tak dipenuhi.

“Semua masyarakat di desa-desa banyak yang ingin berangkat, karena full day school salah satunya mengancam eksistensi madrasah diniyah yang biasanya dimulai sejak pukul 13.00 WIB. Kalau yang dari desa-desa di Jawa Tengah ikut berangkat, maka aksi ini bisa ratusan ribu, bahkan jutaan orang,” ungkapnya.

Menurutnya, pemberlakuan full day school tak bisa dilaksanakan karena dari sisi sarana dan prasarana masih banyak sekolah, yang belum memadai. Bahkan dari sisi kultural, aturan baru tersebut juga mengancam pendidikan karakter yang selama ini diajarkan di dalam madrasah diniyah.

“Jika full day school bertujuan untuk melakukan pendidikan karakter, maka pendidikan karakter yang sesungguhnya di Indonesia sudah berlangsung lama sejak prakemerdekaan melalui pondok pesantren dan madrasah. Pendidikan karakter di Indonesia sesungguhnya adalah pendidikan agama,” paparnya.

Seperti diberitakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengeluarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Lima Hari Sekolah. Pasca dikeluarkanya Permendikbud tersebut, gelombang penolakan terus datang. Salah satunya dari Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU). Kemarin, Presiden Joko Widodo memanggil Mendikbud Muhadjir Effendi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, dan Menko PMK Puan Maharani untuk membahas Peraturan Presiden (Perpres) yang akan memperkuat Permendikbud tersebut. Namun hingga kini Perpres tersebut belum dikeluarkan.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...