Winners.. Yuk Belajar Hidup Jujur dari Bripka Seladi

Winners.. Yuk Belajar Hidup Jujur dari Bripka Seladi

WinNetNews.com - Saat banyak pandangan masyarakat terhadap kinerja kepolisian di Indonesia negatif, tapi hal itu seakan jadi terbantahkan ketika salah seorang anggota Satuan Lalu Lintas (Polantas) Polres Malang Kota, Brigadir Kepala (Bripka) Seladi memilih untuk memulung sampah plastik selepas dinas kerja. Sebuah rumah tidak terawat milik temannya di Jalan Dr. Wahidin, Kota Malang, dipinjamkan kepada Seladi sebagai tempat penampungan sampah.

Ini sangat bertolak belakang dengan status yang melekat pada dirinya yakni anggota Satlantas banyak dipandang masyarakat memiliki sisi kehidupan yang cukup dan mewah.

Rutinitas itu biasa dilakukan bersama beberapa rekannya. Terkadang putranya turut datang membantu Seladi yang kini sudah berusia 57 tahun, untuk mengumpulkan sampah plastik sebagai tambahan penghasilan keluarga. Seladi mengaku, sudah memulung sampah sejak 2006 silam, namun untuk menempati 'gudang' sampahnya baru sekitar tahun 2008.

"Ini punya teman yang dipinjamkan. Entah sampai kapan. Yang jelas saya ingin punya tempat sendiri," ucapnya.

Ketika belum memiliki tempat atau gudang itu, Seladi tidak begitu bisa banyak mengumpulkan sampah untuk dipilah. Jadi hanya sebatas kemampuannya untuk segera dijual kepada pengepul. "Dulu hanya dapat Rp 25-30 ribu. Sekarang bisa sampai Rp 75 ribu," kata pria sejak 1977 menjadi polisi ini.

Semua pasti ada awalnya, begitu juga dengan Seladi ketika pertama kali memunggut sampah. Itu terjadi di saat dirinya berdinas di Mapolres Malang Kota, banyak melihat sampah plastik dibiarkan dan berakhir di tempat sampah. Seladi melirik itu merupakan peluang sebagai tambahan penghasilan. Mulailah dia mengumpulkan dan menjualnya kepada pengepul.

Ternyata itu menjadi kebiasaan, ketika dirinya berpindah tugas di Kantor Samsat Polres Malang Kota. Sampah-sampah plastik dan kertas yang dibuang dimanfaatkan oleh Seladi. "Kalau lepas dinas nyari di sekitar stasiun kereta, kemudian saya bawa pulang saya pilah mana yang bisa laku dijual," ujarnya santai.

 

Bagi dia, ini bukan merupakan pekerjaan hina. Karena sampah-sampah itu jelas bisa memberikan tambahan penghasilan dan tentunya halal. "Saya berpikir ini banyak manfaatnya, ketika kita mau dengan tulus dan ikhlas, karena ini halal," sambung bapak tiga anak ini.

Bripka Seladi memilah-milah sampah

Bripka Seladi, anggota Polantas Polres Malang Kota memilih bekerja sebagai pemulung sebagai pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ia menegaskan tidak pernah menerima suap sepeser pun selama 16 tahun bekerja sebagai anggota Polri.

"Saya belum pernah 16 tahun menerima suap, baik makanan, uang atau apapun. Saya lebih memilih jadi pemulung karena mudah kerjanya," ujar Bripka Seladi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (23/5/2016).

Bripka Seladi hari ini diterima oleh ketua DPR RI Ade Komarudin dan beberapa anggota DPR lainnya untuk mendapatkan penghargaan. Dalam ceritanya, Bripka Seladi menyayangkan perilaku masyarakat yang kurang menghargai nilai kejujuran. Lebih khusus, Ia menyoroti praktek suap dalam pembuatan SIM yang marak terjadi di Indonesia.

Berkat kejujuran dan kesederhanaan yang diterapkan dalam kehidupannya, Bripka Seladi saat ini mendapatkan apresiasi tinggi dari berbagai kelompok masyarakat. Termasuk, salah satunya apa yang diberikan ketua DPR Ade Komarudin hari ini yang memberikannya sertifikat penghargaan.

Selain Akom, Ketua Komisi III DPR RI Bambang Soesatyo juga memberikan bantuannya kepada Bripka Seladi. Bamsoet menyerahkan gajinya sebagai anggota dewan dari bulan Juni sampai Desember kepada Bripka Seladi.

Namun bagi Bripka Seladi penghargaan yang terpenting adalah dari masyarakat. Ia ingin masyarakat lebih menghargai pekerjaannya sebagai anggota polisi dengan tidak memberikan suap kepada petugas dalam bentuk apapun.

"Yang penting masyarakat harus jujur. Jujur dalam apapun, dan menghargai pekerjaan kami dengan tidak memberikan suap," jelasnya.

Dilansir dari Detik.com

Foto: www.nasionalnews.com