Wow! Buku Bacaan Anak TK Ajarkan Radikalisme

Wow! Buku Bacaan Anak TK Ajarkan Radikalisme

Jumat, 22 Jan 2016 | 07:48 | Liani
WinNetNews.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berjanji akan menarik buku bacaan bagi siswa Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang dilaporkan memuat unsur-unsur paham radikalisme.

"Dalam hal ini, kami akan berkoordinasi dengan lembaga terkait misalnya dengan Jam Intel agar buku tersebut dapat ditarik dari peredaran," kata Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud, Tjipto Sumadi di Jakarta, Rabu (20/1/2016).

Dia juga menegaskan bahwa sesuai ketentuan yang berlaku tidak ada kewajiban bagi usia dini untuk diajarkan membaca. Dengan demikian, Tjipto meyakini buku tersebut dibuat tidak melalui prosedur yang ditentukan oleh Kemendikbud.

Sementara, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kemendikbud, Nizam menilai semestinya ada akuntabilitas penerbit, sehingga penerbit tak sembarangan dalam menerbitkan buku. "Saat ini DPR sedang membahas Undang-Undang perbukuan. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih baik. Harus ada kontrol dari publik dan kontrolnya efektif," ujarnya.

Sebagai informasi, buku yang mengajarkan paham radikalisme tersebut diungkapkan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, setelah mendapatkan laporan masyarakat yang berdomisili di Depok, Jawa Barat (Jabar).

Wakil Ketua Umum GP Ansor Benny Rhamdani menjelaskan, dalam buku Metode Belajar Membaca Praktis berjudul `Anak Islam Suka Membaca` ditemukan sedikitnya 32 kata dan rangkaian kata yang mengarah pada radikalisme.

"Kita menemukan fakta-fakta di lapangan, ada upaya pihak-pihak tertentu yang menggunakan media pembelajaran di sekolah untuk senantiasa menanamkan benih-benih radikalisme di tengah masyarakat kita khususnya pada anak-anak," kata Benny dalam jumpa pers di kantor GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (20/1).

Dia mencontohkan, dalam buku tersebut ditemukan kalimat seperti `Selesai Raih Bantai Kyai`, `Sahid di Medan Jihad`, `Gelora Hati ke Saudi`, `Basoka Dibawa Lari`, `Topi Baja Kena Peluru`, `Bid`ah`, `Bom`, hingga `Ada Upaya Feminisasi`.

GP Ansor memastikan kejanggalan kata-kata tersebut menjadi bagian dari metode pembelajaran pada usia dini tumbuh kembang anak. "Kita pasti bisa menilai kata-kata ini apakah cocok jadi media belajar membaca anak usia PAUD dan TK," sambung Benny.

GP Ansor menemukan lima jilid buku berisi kalimat radikalisme yang sudah lama beredar di tengah masyarakat. Pasalnya, buku itu dicetak pertama kali pada Juni 1999, dan tahun 2015 sudah sampai pada cetakan ke-167.

Dilansir dari laman teropongsenayan

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...