Yang Tak Layak, Dilayakkan Kembali
Foto: via nowjakarta.co.id

Yang Tak Layak, Dilayakkan Kembali

Jumat, 17 Jan 2020 | 16:55 | Vanesa Kartadji,Lay

Winnetnews.com - Pernahkah kita berpikir sejenak dalam benak kita tentang “Berapa sampah yang kita hasilkan perhari?” atau mungkin “Ke manakah sampah kita akan bermuara?” Mungkin beberapa dari kita memikirkan hal itu. 

Diperkirakan berat timbunan sampah per hari di Indonesia adalah 200 ribu ton per hari  setara dengan 73 juta ton sampah per tahun. Tahukah kita, dominasi jenis sampah yang ditemui per hari sejenis apa?  Sampah rumah tangga masih memenangi peringkat yang mendominasi sampah di Indonesia.  

Menurut penelitian,sampah yang dihasilkan per individu sebanyak 0,8 kilogram sampah itu bukan angka yang sangat sedikit. Saat ini Indonesia sedang darurat akan sampah yang menumpuk dan susah untuk di urai dan bahkan membutuhkan waktu yang sangat lama sekali untuk diuraikan. 

Melalui hasil penelitian Jenna Jambeck, Universitas Georgia,Amerika Serikat, Indonesia menjadi negara kedua penghasil sampah plastik terbanyak di dunia setelah Tiongkok. Banyak pihak meragukan hasil penelitian tersebut. Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP berencana melakukan penelitian sampah plastik di perairan Indonesia untuk membantah data penelitian Jambeck itu. Namun tidak dapat dipungkiri sampah plastik memang paling mendominasi dan sangat berdampak pada keseimbangan ekosistem di bumi. Misalnya, karena banyaknya sampah plastik yang dihasilkan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem darat,seperti terganggunya struktur tanah.

image0
Sampah diangkut ke mobil truk (Foto: via fajar.co.id)

Suatu organisasi sosial yang bergerak aktif dalam pengelolaan limbah yaitu pengelolaan limbah sampah memperkenalkan suatu konsep mengolah sampah menjadi aktivitas yang menyenangkan melalui konsep 4C’s – Consult, Campaign, Collect, Create. Organisasi yang didirikan oleh Mohamad Bijaksana Junerosano, pria kelahiran Banyuwangi 3 juni 1981 ini sering dipanggil Sano. Sano adalah lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang ingin mengubah pola pikir masyarakat Indonesia terhadap sampah. 

“Pola pikir yang ingin diubah adalah masyarakat yang masih berpikir bahwa selama di lingkungan mereka bersih (seperti rumah, dsb), maka itu tidak akan menjadi masalah. Padahal, sampahnya itu hanya berpindah tempat saja. Jadi, lebih ditekankan untuk pola pikir bahwa sampahku merupakan tanggung jawabku,” ujar Hana Nur Auliana, selaku Head of Communication & Engagement Waste4Change saat ditemui pada 29 Desember 2019. 

Kalau kita pikir sampah adalah sesuatu yang sudah tidak ada nilai guna dan keindahan itu adalah pemikiran yang salah. Stop berpikir demikian. Menurut Sano sampah bisa diolah menjadi barang yang berguna, layak pakai dan memiliki nilai guna seperti sebelumnya atau bahkan lebih dari sebelumnya.

Gerakan 4C’s yang di pelopori oleh Waste4Change menerangkan untuk mengolah sampah ada langkah-langkah pedoman yang harus diikuti. Consult - Konsultasi berdasarkan pelatihan dan penelitian mendalam tentang pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. Campaign -Memberikan edukasi tentang pengelolaan limbah yang bertanggung jawab ke sekolah,tempat tinggal,komunitas. Collect – Membantu dalam pengelolaan limbah di rumah atau kantor agar tidak ada lagi sampah yang tercampur. Create – Berkolaborasi dengan partner yang terpercaya untuk mentransfer limbah sampah menjadi material. 

image1
Logo organisasi Waste4Change (via waste4change.com)

4C’s sangat memegang peran penting dalam pengelolaan limbah sampah. Melalui konsep 4C’s ini kita dapat mengurangi penumpukan sampah di tempat pembuangan terakhir (TPA). Sampah yang diterima adalah hanya sampah non-organik saja dan itu akan dipilah kembali sesuai dengan materialnya dari masing-masing sampah. 

“Konsep 4C’s yang kami miliki salah satunya adalah mendukung agenda JAKSTRANAS (Kebijakan Strategis Nasional 2017),” ucap Hana saat ditanya lebih lanjut mengenai tujuan dari konsep 4C’s itu sendiri.

Konsep 4C’s mengarah pada investasi pengelolaan limbah.

“Konsep 4C’s sebenarnya berhubungan dengan jasa-jasa yang kami tawarkan yaitu Consult, Campaign,  Collect, Create yang menunjukan bahwa solusi dari kami adalah holistik dan end-to-end. Bukan solusi saja, tetapi juga terkait dengan bagaimana mencegah sampah dengan peningkatan kesadaran dalam mengkonsumsi dan gaya hidup,” tutur Hana. 

“Panduan 4C’s merupakan kumpulan jasa-jasa yang dikembangkan oleh Waste4Change, dan tidak menutup kemungkinan akan banyak kolaborasi dan perkembangan di kedepannya dari masyarakat,” sambungnya. 

Saat ini, investasi limbah sampah masih menjadi investasi yang belum populer. Di era mendatang investasi ini dapat menjadi investasi yang menggiurkan. Semakin banyak pertumbuhan penduduk, semakin banyak pula sampah atau limbah yang dihasilkan. Untuk berinvestasi dalam pengelolaan limbah dapat dilakukan mulai sekarang. Ini akan menjadi peluang untuk bisnis start-up. Omzet yang akan diraih cukup menyentuh angka yang besar. Bisa miliaran bahkan triliunan. 

Bagaimana, apakah Anda tertarik? Dengan mulai memisahkan sampah organik dan non-organik kita sudah turut serta dalam investasi limbah. Marilah awali langkah besar dengan langkah kecil terlebih dahulu.

 

 

--------------------
Vanesa Kartadji,Lay adalah mahasiswi London School of Public Relations Jakarta.
*) Opini penulis dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Winnetnews.com.

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...