Zaman Dulu, Calon Haji yang Meninggal Dibuang ke Laut, ini Kisahnya!

Zaman Dulu, Calon Haji yang Meninggal Dibuang ke Laut, ini Kisahnya!

Senin, 8 Agt 2016 | 17:24 | kontributor

WinNetNews.com - Kapal masih menjadi transportasi pilihan bagi jamaah haji sebelum 1979. Pada abad ke-15, kapal layar bahkan digunakan untuk sampai ke Hijaz, sebutan bagi Arab Saudi pada masa itu.

Ketika itu, jamaah haji butuh waktu berbulan-bulan di laut. Perjalanan pun terbilang berbahaya karena harus berhadapan dengan badai dan gelombang. Hingga kemunculan kapal uap pada abad ke-19 yang menjadi buah tangan revolusi industri. Kapal-kapal bermesin mampu mengantar jamaah dalam tempo kurang dari sebulan.

Selama perjalanan di laut, ada jamaah yang meninggal karena kelelahan atau sakit. KH Abdussamad, seorang kiai dari tanah Jawa yang naik haji pada 1948, berkisah tentang bagaimana jenazah tersebut dilepas di laut. Dilansir dari buku Naik Haji di Masa Silam 1482-1964 karya Henri Chambert Loir, kiai itu menumpang Kapal Prometheus milik perusahaan Oceaan dari Pelabuhan Tanjung Priok. Ada seribu penumpang disana. Setidaknya, sang kiai menyaksikan tiga calon haji meninggal dunia.

Baca juga: Kakek ini Nabung Pergi Haji Sejak Zaman Soekarno

M Din Majid dalam buku Haji di Masa Kolonial menjelaskan bagaimana awak kapal memperlakukan jamaah haji yang meninggal di kapal pada masa kolonial. Din menjelaskan, jamaah meninggal dunia karena kelelahan atau mengidap penyakit dalam pelayaran yang panjang.

Setelah dimandikan dan dikafani menurut ketentuan Islam, jenazah kemudian dishalatkan. Awak kapal yang sudah berpengalaman membungkus jenazah itu dari luar dengan kain layar putih bersih. Beberapa kepingan baja dan timah hitam seberat antara 30-50 kg diikat dengan rapat pada kepala dan kakinya.

 

Proses penguburannya dilakukan di buritan kapal. Ketika hendak melepas jenazah, kecepatan kapal dikurangi atau berhenti dengan posisi yang ditentukan mualim. Jenazah itu ditempatkan ke dalam sekoci kecil. Kepalanya dihadapkan ke haluan kapal. Dengan penuh hikmat, sekoci itu diturunkan. Tali sekoci bagian kepala ditarik ke atas sehingga posisinya menjadi miring dan jenazah tenggelam ke dalam laut.

Pelepasan jenazah massal pernah terjadi di Kapal Api Samoa. Catatan dari beberapa sumber yang berangkat haji pada 1893, pernah terjadi musibah besar di kapal itu. Kapal dengan bobot 4.507 tonnase itu dikontrak Herklots untuk mengangkut 3.600 jamaah haji dari Jeddah ke Batavia. Jumlah penumpangnya melebihi kapasitas karena Sarat dengan muatan. Penumpang pun terpaksa harus duduk berimpitan.

Baca juga: Kenapa di Zaman Kolonial, Haji Nusantara Tak Disukai? ini Alasannya!

Jamaah bahkan buang hajat besar dan kecil di sembarang tempat. Keadaan diperparah akibat badai selama tiga hari tiga malam. Badai dahsyat itu menyebabkan penumpangnya patah tulang. Seratus orang tercatat meninggal duniia. Tidak ada lagi orang yang memperhatikan barang yang dibawa. Peti barang terlempar ke laut. Setelah badai reda dan kapal tenang, penumpang yang selamat mulai menarik napas lega.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...